Malam pertengahan Ramadan di Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, dihidupkan oleh cahaya obor dan aroma kolak ubi yang dibagikan gratis kepada ribuan warga. Festival Pawai Obor dan Kolak Ubi yang digelar Ahad (8/3) malam bakda tarawih dihadiri Wakil Wali Kota Indra Gobel beserta Forkopimda dan tokoh masyarakat. Panitia membagikan tepat 2.026 cup kolak ubi, menyesuaikan angka tahun pelaksanaan, dengan jumlah meningkat dari 2.025 cup tahun sebelumnya. Uniknya, kolak tidak hanya disediakan panitia, tetapi juga berasal dari partisipasi sukarela warga yang membuka pos di sepanjang jalur pawai. Siapa saja yang lewat boleh mengambil, menciptakan sistem distribusi berbasis kepercayaan dan gotong royong.
Ketua PPIB Kota Gorontalo H. Ramli Jafar mengungkapkan bahwa dana kegiatan murni swadaya masyarakat dan telah rutin dilaksanakan lima tahun terakhir oleh Remaja Muda Molosipat W. Ketua Panitia Muhammad Guntur Diwantung menjelaskan pawai obor sengaja digelar pada pertengahan Ramadan untuk memperingati Nuzulul Quran, merekonstruksi kebiasaan umat Islam masa lalu berjalan ke masjid dalam gelap dengan obor sebagai penerangan. Sembilan kelompok peserta dari majelis taklim, remaja masjid, TPQ, serta siswa SD-SMP se-Kecamatan Kota Barat turut memeriahkan. Indra Gobel mengapresiasi inisiatif bottom-up ini sebagai syiar Islam sekaligus penguat kebersamaan yang perlu dilestarikan.
Model pendanaan swadaya membuat festival ini memiliki ownership komunitas yang kuat, tidak tergantung pada anggaran pemerintah atau sponsor korporat. Ketika warga menyediakan kolak dari dapur masing-masing dan remaja masjid mengorganisir pawai tanpa bayaran, yang terbangun adalah modal sosial yang tidak bisa dibeli dengan APBD. Tradisi ini juga berfungsi sebagai transfer nilai antargenerasi: anak-anak TPQ belajar sejarah Nuzulul Quran melalui pengalaman fisik membawa obor, bukan hanya ceramah mimbar. Partisipasi lintas usia dari balita hingga lansia menunjukkan bahwa tradisi religius bisa menjadi perekat kohesi sosial yang inklusif.
Festival Pawai Obor dan Kolak Ubi Molosipat W menawarkan alternatif narasi perayaan Ramadan yang tidak konsumtif dan tidak bergantung pada entertainment industri. Di tengah maraknya bazar takjil komersial dan lomba berhadiah mewah, kesederhanaan 2.026 cup kolak dan cahaya obor justru menghadirkan kedalaman makna yang autentik. Harapan panitia agar kegiatan ini menjadi motivasi bagi remaja masjid di wilayah lain menunjukkan potensi replikasi model berbasis komunitas. Ketika tradisi dikelola dari bawah dengan semangat sukarela, hasilnya bukan sekadar event meriah, tetapi ekosistem keberagamaan yang hidup, mandiri, dan berkelanjutan.

