Sejak Islam menjadi agama resmi di Gorontalo pada 1525, umat Muslim di daerah ini telah menjalani puasa Ramadan sebanyak kurang lebih 500 kali. Angka ini terasa kecil jika dibandingkan dengan peradaban lain yang telah berpuasa ribuan kali sejak era Nabi. Namun, pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama adalah: apakah 500 kali pengulangan ritual suci ini telah membawa perubahan fundamental bagi karakter masyarakat Gorontalo? Apakah kemiskinan berkurang, pengangguran menyusut, ketimpangan mengecil, lingkungan makin asri, kriminalitas menurun, pelayanan publik membaik, dan aktivitas keagamaan semakin bermakna? Atau justru indikator-indikator tersebut stagnan bahkan memburuk?
Jika data statistik menunjukkan bahwa perbaikan sosial tidak berjalan linier dengan jumlah Ramadan yang telah dilalui, maka kita perlu jujur bertanya: apakah puasa masih relevan sebagai instrumen perbaikan kolektif, ataukah ia telah terpisah dari realitas sosial? Jangan-jangan Ramadan kini hanya terjebak dalam komodifikasi seremonial: flyer ucapan, spanduk elit, story media sosial, parade bukber, sahur on the road, lomba tumbilotohe, hingga konsumsi baju baru dan sarung mahal jelang Idulfitri. Agenda-agenda yang seharusnya menjadi "bagian" dari penyemarak Ramadan justru dianggap sebagai tujuan utamanya. Setelah tangisan di mimbar khutbah usai, kehidupan kembali ke settingan pabrik tanpa ada transformasi nyata.
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapat lapar dan haus. Pertanyaan kerasnya: apakah kita sedang mengulang pola yang sama selama 500 tahun? Apakah kita harus menunggu proses mololopu (kehancuran) seperti peradaban-peradaban terdahulu baru bisa sadar dan merefleksikan keadaan? Ramadan tahun ini masih menyisakan hari-hari terakhir sebagai kesempatan untuk koreksi. Usia tidak ada yang tahu, mungkin puasa 2026 adalah yang terakhir, atau justru menjadi kenangan yang ditangisi di khutbah Idulfitri nanti. Petunjuk dan tanda telah ada di sekitar kita; tinggal bagaimana kita membacanya bukan sebagai ritual semata, tapi sebagai momentum perubahan yang sesungguhnya. Karena Serambi Madinah bukan sekadar jargon di spanduk, tapi cita-cita yang harus dihidupkan melalui integritas, keadilan, dan kepedulian sosial yang lahir dari puasa yang benar-benar sampai ke hati dan tindakan

