close

Startup

Startup

QLUE Smart City Hadir di Kota Gorontalo

kini Qlue sudah hadir di Kota Gorontalo. bagi yg belum tau apa itu QLUE, QLUE adalah aplikasi yang dapat digunakan warga untuk melaporkan peristiwa yang terjadi di Gorontalo seperti banjir, tindak kriminal, kebakaran, dan lain sebagainya. Melalui aplikasi ini, laporan atau keluhan warga akan direspon oleh pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti.

read more
StartupTechnology

Gorontalo Unite Dan RTIK Gelar Gorontalo Digital Day

Gorontalo adalah jazirah yang beriktiar untuk disebut sebagai Serambi Madinah. Ada terselip doa dalam ikhtiar itu. Ikhtiarnya agar peradaban Gorontalo minimal bisa meneladani kehidupan di Madinah, kota tempat Nabi Muhammad memproklamirkan sekaligus mempraktikkan serta mewujudkan peradaban yang berakhlak tinggi dan mulia.

Cita-cita mulia tersebut lalu mewujud dalam agenda perjuangan sejak era kolonial. Banyak darah yang tumpah di tanah ini, ada ribuan batang kepala yang ditebas, dan ribuan liter air mata yang bercucuran, untuk tujuan mulia itu. Menegakkan Gorontalo diatas adat yang bersendikan syara’, syara’ bersendikan kitabullah.

Hingga pada penghujung abad 20, keran otonomi dibuka, dan Gorontalo pun diarahkan menjadi teritori yang mandiri dan otonom, bebas dari kungkungan Minahasa. Agenda semua kalangan adalah mem-Provinsi-kan Gorontalo, semua potensi dan sumber daya dimobilisasi dan dikerahkan untuk itu. Tak mengenal strata dan status, semua bergagendakan yang sama ; Provinsi Gorontalo.

1.0

Gorontalo apapun nanti, dan setelah itu, pokoknya mesti jadi Provinsi dulu. Gorontalo mesti pisah dari Minahasa. Gorontalo saat itu adalah zaman Gorontalo 1.0, berorientasi kepada product-centric dan institutional centric. Tujuan itupun berhasil. Provinsi terbentuk.

Setelah Provinsi terbentuk, bagi-bagi kekuasaan pun terdistribusi, walaupun belum secara merata dan adil. Gemilang sekaligus juga menggelembung. Gelembung dalam artian masih sebatas citra seperti balon.

2.0

Pada zaman itu, upaya untuk mengembalikan kebangggaan akan identitas ke-Gorontalo-an yang “berhamburan” sesaat masih dengan Sulawesi Utara menjadi sesuatu yang sangat penting. Rakyat sedikitnya bisa bernafas enak. Pada zaman itu, Pemerintah berusaha meraih pikiran dan hati publik.

Sayangnya, pendekatan ini secara implisit bahwa publik adalah target pasif. Publik dianggap puas dengan gelembung citra. kerja-kerja negara masih bersifat jangka pendek. Masih sebatas public-centric. Zaman itu adalah zaman Gorontalo 2.0.

3.0

Memasuki era 3.0 yang lebih kompleks, dengan tafsir soal politik lokal yang lebih dinamis. Gorontalo 3.0 adalah era pemenuhan “perut” elit politik yang sangat brutal.

Gorontalo 3.0 adalah juga kondisi kompleks di tengah krisis global yang di depan mata, target penerimaan pajak yang rendah, pemangkasan anggaran yang besar, kriminalitas meningkat, mutu pendidikan semakin rendah walaupun angka partisipasi naik. Pada keadaan yang sama, penyakit menjadi pandemi, kemiskinan menggurita, kerusakan lingkungan terus terjadi.

Seturut dengan itu, negara ini telah dengan berani menyepakati masuknya modal yang luar biasa besar dengan diikuti oleh pemaksaan untuk penyesuaian regulasi agar bisa sesuai dengan selera pasar. Di level makro, kebudayaan Gorontalo berada di tubir peradaban, tak jelas mengarah kemana. Semua bersifat simbolik, penuh gempita dan mesti diiringi baliho serta tepuk tangan. Memasuki “palung” peradaban ini, banyak gedung-gedung bersejarah terancam dihancurkan dan diratakan dengan tanah. Seperti tak ada rasa syukur akan identitas kesejarahan Gorontalo di masa silam.

Pada kondisi yang lain, perebutan kekuasaan melalui pesta lima tahunan seperti perayaan pesta bandit dan begundal yang tak punya perasaan. Demokrasi dikangkangi untuk kepentingan segelintir orang. Hasilnya apa? Pesta pora demokrasi hanya melahirkan elit politik yang kerjaannya hanya memburu penghargaan dan tepuk tangan. Tak ada niat baik untuk memperbaiki daerah ini.

4.0

Gorontalo 4.0 adalah agenda yang merayakan aspirasi, nilai-nilai dan human spirit. Pendekatan pembangunan tidak bisa fisik semata, apalagi hanya berorientasi “mencapai target serapan anggaran”. Mesti lebih dari itu.

Gorontalo 4.0 adalah agenda untuk masa yang bergolak. Prinsip masa ini dibentuk dari segitiga faktor ; partisipasi yang semakin aktif dan horizontal (digital to konvergen), paradoks globalisasi, dan semakin kreatifnya kaum milenial. Dalam saat yang sama, negara masih dikelola oleh generasi X dengan pola berpikir yang analog.

Gorontalo 4.0 adalah masa dimana new wave technology menjadi kekuatan penggerak. Inti gerakan ada pada values-drivenValues yang bagaimana? Dan seperti apa? Metodenya seperti apa? Values yang dimaksud adalah kumpulan modal sosial lokal Gorontalo yang mesti digali kembali ; huyula, bilohe, tolianga, hulunga, himbunga, timoa, depita, bayawa, bubaya, hiyo, palita, tiayo, heyiya, dan banyak modal sosial lainnya.

Prinsip lokal diatas adalah values-driven yang bisa diterjemahkan menjadi political-driveneconomic-driven dan social-driven. Bukti keberhasilan modal sosial Gorontalo ada pada hulunga, yakni model bekerja bersama seluruh masyarakat secara partisipatif. Hasil dan bukti dari sistem Hulunga ini bisa kita saksikan pada saluran irigasi Tanggidaa yang dibangun pada 6 Sya’ban 1140 H atau 19 Juni 1728. Begitu juga dengan dembula, yakni model saling memberikan bantuan tanpa balasan dalam prosesi kematin, pernikahan dan lain-lain.

Contoh diatas adalah bukti bahwa pada masa lalu, values-driven telah terbukti bisa menyatukan derap Gorontalo, baik untuk menyatukan masyarakat maupun bisa membangkitkan partisipasi publik. Berbeda dengan kondisi saat ini yang bisa kita dengar di kampung-kampung mapilo biasaliyo lo doyi wanu dila jamo karaja.

Torehan kisah masa lalu dan bukti historisnya adalah penting untuk direfleksikan secara komprehensif dan kolaboratif. Perlu adanya menjahit semangat kolaborasi antar masa dan antar periode. Tanpa itu, kita hanya berada pada sintesis dendam kesumat antar periode. Sebagai contoh, setiap ganti pemimpin, selalu ganti tema, ganti kulit dan jika perlu ganti spirit. Sejarah itu tidak bisa diperlakukan sebagai benda, tapi sebagai memori untuk pengalaman sebagai guru di masa depan.

Dunia yang saat ini sedang bergolak perlu adanya perenungan secara mendalam, leluhur kita punya keberhasilan dalam mengelola gejolak di masa itu tanpa harus mempertaruhkan prinsip ke-Gorontalo-an mereka. Mereka bisa beradaptasi dan berkolaborasi di tengah keterbasan sumber daya.

Di era saat ini dimana “batas” semakin tipis dan longgar, tafsir soal nasionalisme, kedaerahan dan negara berada di ambang batas. Perlu ada peneguhan kembali soal sikap bersama, many to many. Bukan lagi one-to-one apalagi one-to-many. Dunia saat ini adalah dunia kolaboratif. Semangat itu yang mesti dijadikan prinsip kerja bagi semua lapisan.

Dunia yang bergolak tidak bisa diubah dengan cara berpikir satu dan dua orang, atau beberapa kelompok. Perebutan sumberdaya baik di level kekuasaan maupun ekonomi mesti ditafsirkan lagi sekaligus direnungkan kembali. Kecuali memang tidak ada niat untuk mewariskan kebaikan dan sumberdaya bagi generasi di masa akan datang. Pada sikap ini, generasi akan datang hanya akan bisa mengutuk kita yang berada di masa kini.

Di masa Gorontalo 4.0, ada suatu keadaan dimana citizen akan saling berebut pengaruh dengan netizen. Baik opini, legitimasi maupun sumberdaya. Perebutan ruang ini semakin nyata jika kita bisa melihat aneka ragam keadaan di media sosial.

Gorontalo 4.0 adalah masa mengesktrak values di masa lalu dan “menikahkannya” dengan spirit new wave technology di masa kini. Sebagaimana kreatifitas leluhur kita di masa lalu yang penuh keterbatasan, namun bisa mencetak banyak karya, tapi tetap menjamin kekentalan kekerabatan satu sama lain. Berbeda dengan kondisi saat ini, tarik menarik legitimasi jangka pendek misalnya untuk agenda politik lokal telah mengakibatkan kerakusan dan kemerosotan nilai dan pada akhirnya mewariskan jejaring dendam yang tak pernah usai.

Maka, menjatuhkan pilihan prinsip dan agenda untuk masa depan adalah hal genting untuk segera dilaksanakan. Siapapun pemimpin di masa akan datang, mau tidak mau mesti melepaskan ego sektoralnya untuk kebaikan bersama demi merawat warisan untuk generasi masa depan.

Selamat memasuki abad baru Gorontalo, abad kreatif sekaligus abad terganas! Semoga kita segera meninggalkan Annus Horribilissimus ini dan segera memasuki Annus Mirabilis.

by: Funco Tanipu

read more
Startup

Tech In Asia Ch. Gorontalo: Meetup Founder

Melalui inisiatif program TIA City Chapter-nya, Tech In Asia mencoba menghadirkan sebuah misi untuk melayani ekosistem startup di Asia. Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa City Chapter Tech In Asia diluar ibukota Jakarta. 

Sehingga hal seperti ini mendorong berbagai penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan startup yang ada di daerah. Misalnya di Gorontalo.

TIA City Chapter Gorontalo sendiri sudah melakukan sebanyak 2 kali kegiatan yang melibatkan para pelaku industri kreatif ini. Dan yang terakhir dilakukan Senin (20/8) malam kemarin di salah satu cafe di Kota Gorontalo.

Dengan mengambil tema Founder Meetup, TIA City Chapter Gorontalo menghadirkan beberapa keynote speaker seperti Veronika Tamponganoy (Co Founder Carelaig), Mohammad Idrak Olii (Founder Wolo Game Development), dan Steven Polapa (Co Founder sekaligus inisiator Gorontalo Unite).

Selain ketiga keynote speaker tersebut, hadir beberapa peserta lainnya yang berkecimpung di bidang startup di Gorontalo. Rian Husain (CEO Saronde Tech), Irfan Mahmud (CTO Tatiye Group), Eko Nasaru (Captain Leader Tech In Asia Chapter Gorontalo yang juga diawal bulan Agustus meluncurkan aplikasi khusus untuk relawan donor darah, Blod.Id), kemudian hadir juga Eza dari Ammaz, sebuah platform yang bergerak dibidang jasa yang aplikasi mobilenya sudah bisa diunduh di Play Store).

Veronica Tamponganoy, yang menjadi keynote speaker pertama sedikit menguraikan tentang Carelaig, sebuah startup yang bergerak dalam bidang pengorganisasian relawan, donasi, hingga layanan untuk mendanai project dari komunitas. Lewat websitenya www.carelaig.com, setiap pengunjung dapat melihat campaign yang disajikan. Misalnya pengumpulan buku bacaan bagi siswa pesisir, kita bisa langsung melakukan donasi sebanyak apa yang kita inginkan. 

“Pertanggung jawaban kita jelas. Berapa donasi yang terkumpul, secara otomatis dia akan ditampilkan di halaman campaign. Jadi donatur bisa memotir sudah sejauh mana program tersebut berjalan” ujar Vero seraya mengungkapkan bahwa aplikasi mobile Blod.Id juga lahir dengan sistem bootstrap melalui carelaig. 

Sementara itu, Mohammad Idrak Olii yang biasa disapa Omi ini yang memiliki beberapa startup seperti Deezkon, Anamuda.com, Game Wolo, menjadi keynote speaker berikutnya. 

Omi banyak mengulas bagaimana startupnya dalam hal mencari pendanaan. Karena startup merupakan pola bisnis yang baru, sehingga untuk meyakinkan investor butuh sesuatu yang matang.

“Kita pernah bertemu dengan investor dari Jakarta, dari Bali, dan bahkan juga dari Swedia dan Filipina. Dalam hal seperti ini, bagaimana cara kita sendiri dalam meyakinkan mereka tentang ide ini” ujar Omi.

Omi juga memberikan beberapa tipsnya, tentang bagaimana memulai hingga menjalankan bisnis startup. “Jika kita tidak bisa bertahan dengan berbagai tantangan yang ada, atau takut terlebih dahulu sebelum memulai, tentu hal ini tidak bisa menambah kita pengalaman” lanjut Omi

Startup memang merupakan pola bisnis yang baru dalam bidang teknologi. Ada banyak yang sukses dalam menjalankannya, dan tidak sedikit juga yang gagal. 

“startup itu solusi dari masalah yang ada. kita pecahkan lewat teknologi, yang bisa membantu atau meringankan beban kerja” ungkap Steven Polapa, Co Founder Gorontalo Unite. 

“Kita Gorontalo Unite bergerak dalam hal media. Kita memiliki beragam database komunitas, UMKM, sama hal-hal yang mendukung lainnya. Kita banyak fokus pada event-event komunitas, pada destinasi-destinasi wisata di Gorontalo, hingga budaya & adat istiadatnya dan kuliner. Karena kita bergerak melalui sosial media, jadi murah” ungkapnya.

Gorontalo Unite sendiri sudah mengembangkan rencana kedepannya dengan menghadirkan layanan aplikasi berbasis mobile tentang hal-hal yang dibutuhkan kaum milenial di Gorontalo. 

“Kita fokus ke Gorontalo dulu. Untuk mengembangkan sampai tingkat regional maupun nasional belum sih. Tapi sudah ada gambaran tentang itu. Karena kalo cuma Gorontalo saja, dengan jumlah penduduknya yang hanya sejutaan, sedikit memang. Kita lihat saja nanti” jawabnya

Gorontalo Unite sampai saat ini tetap fokus pada tujuan awal dibentuk 8 tahun silam dengan 7 karyawannya. Mengabarkan semua kabar bahagia dari Gorontalo dan menjadi forum digital tersendiri. Wisata, kuliner, event komunitas, budaya dan adat istiadat masih menjadi pilihan penyajian informasi. Berbeda dengan media-media mainstream lainnya. 

read more
Cerita dari GorontaloStartup

Andika, Raup Puluhan Juta Rupiah dari Youtube

Semakin pesatnya perkembangan teknologi, semakin banyak hal yang bisa kita dapatkan. Baik itu informasi, konten jualan, maupun hal-hal positif lainnya. Tidak jarang, banyak yang yang meraup keuntungan tersendiri lewat internet. Misalnya lewat youtube, yang penggunanya bisa mendapatkan pendapatan tersendiri.

Saat ini banyak wanita maupun pria yang kini menekuni pekerjaan sebagai YouTuber. Mereka bisa mendapatkan penghasilan dengan konten yang dihasilkan melalui YouTube. 

Sebut saja Raditya Dika, yang menurut alalisis melalui SocialBlade, penghasilannya per tahun sekitar 600jt sampai dengan 10 miliar. Selain Raditya Dika, ada juga Vindy yang merupakan 

YouTuber sekaligus makeup artist. Vindy termasuk salah satu influencer Indonesia yang meraup 200juta sampai dengan 3.4 miliar.

Banyak juga yaa…

Itu diluar sana, di kota besar. Nah, di Gorontalo bagaimana? apakah dari sekitar 1juta penduduk ada juga yang youtuber? Ada. banyak. berdasarkan penelusuruan mimin sendiri, di Gorontalo bahkan ada komunitasnya tersendiri bagi para youtubers. Mereka menggarap beragam konten dan disajikan secara berkesinambungan. Menarik memang. 

Berbicara tentang youtuber Gorontalo, ada salah satu yang boleh patut diacungi jempol, namanya Andi Kahar. 

Saat mimin datang ke rumahnya di Desa Bongoime, Kec. Tilongkabila, Bone Bolango, langsung diajak masuk ke studionya yang masih menggunakan dinding triplek. 1 unit PC dilengkapi mic dan sebuah headset yang digunakan Andi untuk menciptakan konten video. 

“Saya hanya bergerak di konten video parodi. Jadi saya banyak dibantu oleh Adobe Audition untuk mengedit suara yang kemudian saya gabung di video untuk jadi satu konten yang siap di upload” ujar Andi Kahar seraya memperlihatkan chanell yotubenya.

Andi Kahar sendiri memulai berkarya dengan konten-konten video parodi semenjak Agustus 2017. Chanellnya hingga saat ini sudah memiliki 400ribu surscribe. Saat ditanya berapa penghasilan per bulan, Andi menjawab seadanya saja.

“Bulan Mei kemarin, saya menerima 20juta, biasanya di transfer per bulan” ujar pemilik chanell Andika Gemintang.

Andi sendiri sudah mendapatkan Silver Play Button dari YouTube Amerika, karena akumulasi subscribe videonya telah melebihi 100 ribu subscribers, dan pendapatannya diatas angka 150.000.000 per tahun.

Meskipun begitu, Andi orangnya hidup sederhana dan ramah kepada siapapun. Baginya, hasil yang didapatkan selama ini adalah sebuah hasil dari kerja kerasnya. Andi tidak sendiri, dia ikut di dukung oleh orang tuanya, istri dan teman-teman terdekatnya. 

read more