Ketika ribuan lampu tradisional menyala serentak di malam-malam akhir Ramadan, apa yang sebenarnya sedang dirayakan oleh masyarakat Gorontalo? Tumbilotohe, yang secara harfiah berarti "pasang lampu", telah menjadi ikon budaya yang dikenal hingga mancanegara dan masuk dalam kalender event nasional Kementerian Pariwisata. Namun di balik kemeriahan visualnya, tradisi ini menyimpan akar spiritual yang mendalam terkait penyambutan malam Lailatul Qadar.

Menurut almarhum Ustaz Abd. Azis Hamid, rujukan utama tumbilotohe bersumber dari Surat Al-Qadr yang menggambarkan turunnya malaikat dan ruh pada malam kemuliaan. Masyarakat tua Gorontalo meyakini bahwa malaikat menyukai wangi-wangian dan suasana terang, sehingga disambut dengan lampu berbahan bakar minyak kelapa (tohe tutu) yang aromatik. Simbolisme adat juga tertanam kuat melalui Alikusu atau gapura bambu kuning berbentuk kubah yang melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Lima lampu botol (tohe butulu) di palang atas merepresentasikan salat lima waktu, janur kuning (lale) melambangkan kesucian, bunga warna-warni (polohungo) menyimbolkan persatuan dalam perbedaan, serta tebu (patodu) dan pisang (lambi) yang bermakna rezeki dan kemanfaatan bagi sesama.

Prosesi penyalaan lampu pada malam pertama pun dilakukan secara sakral oleh imam yang membacakan doa dan Surat Al-Qadr. Tradisi yang diyakini berasal sejak abad ke-15 Masehi ini awalnya dilaksanakan secara spontan oleh warga Nahdlatul Ulama sebagai bentuk ibadah, sementara kalangan Muhammadiyah dan nonmuslim umumnya tidak berpartisipasi. Namun setelah ditetapkan sebagai even budaya dan dilombakan, tumbilotohe kini menjadi milik seluruh warga tanpa sekat golongan, dipasang di rumah, toko, hingga kantor pemerintah dan swasta.

Dampak ekonominya pun nyata: hotel penuh, pusat perbelanjaan ramai, dan daya beli masyarakat meningkat terutama ketika pengunjung tinggal hingga perayaan hari raya ketupat seminggu setelah Idulfitri. Meski demikian, pergeseran dari ritual sakral menjadi atraksi wisata membawa tantangan tersendiri. Penulis yang juga dosen Fakultas Ekonomi UNG mengingatkan pentingnya penceramah dan tokoh adat terus menggali hakikat tumbilotohe agar nilai keluhuran ibadahnya tidak tenggelam oleh aspek seremonial semata. Ketika cahaya tradisional tetap dinyalakan dengan pemahaman akan maknanya, tumbilotohe bukan sekadar pesta lampu, melainkan jembatan antara warisan leluhur dan spiritualitas yang hidup di tengah modernitas.

tumbilotoheLailatul Qadarbudaya Gorontalotradisi RamadanAlikusutohe tutuwisata religiGorontalo
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read