Di Desa Kaliyoso, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, aroma manis gula merah dan santan kelapa mulai mengudara beberapa hari sebelum perayaan ketupatan. Rasyid Patamani beserta keluarganya sudah memulai pembuatan dodol sejak Selasa, melanjutkan tradisi tahunan yang menjadi penanda khas pasca-Idul Fitri. Bahan dasarnya sederhana—beras ketan, santan, gula merah—namun proses memasaknya membutuhkan kesabaran luar biasa selama 7 hingga 8 jam tanpa henti.
“Bahan-bahan seperti beras ketan, kelapa santan, dan gula merah. Beberapa penambah rasa seperti kacang dan durian juga sering digunakan untuk memberikan cita rasa yang lebih kaya,” ujar Rasyid pada Rabu sore (25/3/2026). Satu keluarga bisa memproduksi hingga 40 kilogram dodol, menghasilkan 400–800 bungkus tergantung ukuran kemasan. Yang membuat tradisi ini istimewa bukan hanya rasanya, tetapi proses pembuatannya yang melibatkan tetangga dan kerabat. Dodol kemudian dibagikan gratis kepada tamu yang datang dalam tradisi *open house*, sebagai simbol sambutan hangat dan kebersamaan.
Memasak dodol selama delapan jam adalah latihan kesabaran kolektif yang tidak bisa digantikan oleh produksi massal pabrik. Setiap adukan di wajan besar adalah percakapan, setiap giliran menjaga api adalah bentuk gotong royong yang hidup. Ketika dodol disajikan kepada tamu tanpa transaksi jual-beli, nilainya bergeser dari komoditas pangan menjadi media perekat sosial. Tradisi ini memastikan bahwa perayaan ketupatan di Gorontalo bukan hanya tentang makan bersama, tetapi tentang merawat hubungan antarwarga yang telah terjalin lintas generasi. Dalam era serba instan, delapan jam memasak dodol adalah pernyataan bahwa hal-hal terbaik memang memerlukan waktu dan kebersamaan.

