Belasan ribu peserta dari seluruh Indonesia akan memadati Gorontalo dalam waktu singkat, menciptakan lonjakan mobilitas yang menuntut respons cepat sektor transportasi. Agenda Pekan Nasional Petani dan Nelayan (PENAS) pada 20-25 Juni mendatang memicu penambahan enam jadwal penerbangan ekstra oleh Garuda Indonesia, Lion Air, dan Batik Air. Kepala Dinas Perhubungan Sagita Wartabone menjelaskan bahwa Gubernur Gusnar Ismail mengajukan permohonan langsung ke Kementerian Perhubungan setelah slot reguler terpenuhi penuh pada 18 dan 19 Juni. Permohonan disetujui dengan rincian tiga penerbangan tambahan dari Jakarta dan tiga dari Makassar untuk mengakomodasi arus kedatangan jelang pembukaan acara.
Tidak hanya udara, jalur laut juga mengalami penyesuaian jadwal demi memastikan kontingen dari wilayah terpencil dapat hadir tepat waktu. Kalimantan Utara mengirimkan 85 peserta menggunakan kapal Sabuk Nusantara 97 yang dijadwalkan tiba 19 Juni. Masalah muncul saat kepulangan mereka pada 26 Juni bertabrakan dengan ketiadaan jadwal kapal. Atas intervensi Kementerian Perhubungan, keberangkatan Sabuk Nusantara 116 yang semula dijadwalkan 23 Juni diundur menjadi 26 Juni khusus untuk memfasilitasi kepulangan peserta PENAS. Koordinasi lintas moda ini menunjukkan kompleksitas logistik event nasional di daerah dengan konektivitas terbatas.
Bandara Djalaluddin Tantu telah menyatakan kesiapan operasional 24 jam jika diperlukan. Pengelola bandara juga menyiapkan protokol penerimaan tamu VVIP dengan pembagian zona yang jelas. Presiden atau Wakil Presiden akan ditempatkan di terminal lama, kepala daerah di ruang VIP lantai 2, sementara peserta umum menggunakan terminal kedatangan reguler. Pemisahan alur ini bertujuan mencegah penumpukan dan memastikan pelayanan berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas penerbangan komersial harian.
Lonjakan trafik ini bukan sekadar tantangan teknis, tetapi juga ujian kapasitas infrastruktur Gorontalo dalam menyelenggarakan event berskala nasional. Keberhasilan mengelola kedatangan dan kepulangan ribuan peserta dalam jendela waktu sempit akan menentukan citra daerah sebagai tuan rumah yang kompeten. Sinergi antara pemerintah daerah, maskapai, operator pelayaran, dan kementerian menjadi kunci kelancaran mobilisasi massa. Ketika petani dan nelayan dari Sabang sampai Merauke bisa tiba dan pulang dengan tertib, pesan tentang keterjangkauan dan inklusivitas PENAS tersampaikan sebelum acara bahkan dimulai.
