Siapa bilang festival budaya hanya berisi tarian tradisional? Di Desa Kaaruyan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, perayaan adat berpadu unik dengan kompetisi *e-sports*. Festival Kaaruyan yang puncaknya digelar Minggu (28/7/2019) menyajikan kombinasi menarik antara Pengucapan Syukur umat Kristiani, karnaval budaya, seminar, hingga turnamen PUBG 2019 yang diikuti peserta dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo.
Kepala Desa Kaaruyan, Ronal Ch Rampi, menjelaskan bahwa ini adalah pelaksanaan kedua dengan tujuan menjaga eksistensi keragaman budaya di desa wisata tersebut. “Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga eksistensi pelestarian keragaman budaya di Kaaruyan, sebab desa kami menjadi salah satu desa wisata budaya di Boalemo,” jelasnya. Gubernur Gorontalo Rusli Habibie yang hadir bersama istri dan sejumlah pimpinan OPD mengapresiasi inisiatif ini sebagai bukti nyata keberagaman etnis dan agama di Gorontalo.
Rusli menyoroti harmoni sosial yang terbentuk melalui festival ini. “Keberagaman budaya, etnis, dan agama ini menjadi kekuatan kita yang diikat oleh Empat Pilar Kebangsaan,” tuturnya. Ia menegaskan komitmennya terhadap kerukunan dengan semboyan *torang samua basudara*, noting bahwa tidak pernah ada masalah SARA di wilayahnya. Apresiasi konkret pun diberikan; Gubernur memerintahkan Dinas Pariwisata untuk mencatat Festival Kaaruyan sebagai agenda tahunan pariwisata Gorontalo mulai 2020, memastikan tradisi lokal tetap hidup berdampingan dengan tren kontemporer.

