Malam pertama Ramadan 1446 H di Gorontalo benar-benar terasa berbeda. Ribuan masyarakat tumpah ruah ke jalanan pada Sabtu (1/3) untuk mengikuti Festival Koko’o, tradisi ketuk sahur yang telah menjadi identitas khas menyambut bulan suci. Suara kentungan bambu yang dibunyikan serentak menciptakan euforia yang luar biasa, menandakan bahwa semangat kebersamaan warga Gorontalo dalam menyongsong Ramadan masih sangat kuat dan hidup.

Ketua Koko’o Gorontalo, Fiqram Idrus, mengungkapkan bahwa panitia menyiapkan 800 kentungan bambu yang dibagikan gratis kepada peserta. Antusiasme masyarakat melebihi ekspektasi, menjadikan momen awal Ramadan ini terasa sangat meriah dan penuh sukacita. Tradisi ini memang rutin digelar setiap awal dan akhir Ramadan, sementara di hari-hari biasa dilakukan oleh kelompok pemuda di tingkat kampung. Peningkatan partisipasi dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa regenerasi tradisi berjalan dengan baik dan diterima positif oleh semua kalangan.

Suasana semakin hangat ketika anggota DPRD Provinsi Gorontalo Erwin Ismail turut berbaur langsung dengan ribuan warga di kawasan Patung Saronde, ikut membunyikan koko’o tanpa sekat jabatan. Kehadiran tokoh publik di tengah masyarakat dalam perayaan budaya seperti ini menegaskan bahwa tradisi koko’o bukan sekadar ritual, tapi ruang silaturahmi yang merekatkan solidaritas sosial. Festival ini menjadi pengingat bahwa merayakan Ramadan tidak hanya soal ibadah individual, tapi juga tentang menjaga warisan leluhur yang dikemas dengan kegembiraan kolektif yang autentik dan terus relevan di setiap zaman

#FestivalKokoo #Ramadan2025 #TradisiGorontalo #KetukSahur #KomunitasPemuda #PatungSaronde
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read