Tradisi Tumbilotohe tahun ini tampil beda dengan konsep Green Tumbilotohe yang mengutamakan keberlanjutan lingkungan tanpa meninggalkan nilai budaya. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, menjelaskan bahwa kata "Green" merepresentasikan kesadaran akan pariwisata berkelanjutan sebagai respons terhadap preferensi wisatawan modern. “Melalui Green Tumbilotohe ini saya dan teman-teman KadisParpora Kabupaten/Kota mencoba mendorong kembali Tumbilotohe yang ramah lingkungan namun mempertahankan tradisi lokal,” ungkapnya.
Pergeseran dari minyak tanah ke bahan bakar alternatif seperti minyak kelapa dan minyak jelantah menjadi fokus utama untuk mengurangi emisi karbon. Azhar Badiu, panitia festival di Buntulia Pohuwato, menyebut bahwa transisi ini adalah bentuk adaptasi tradisi agar tetap relevan dan bertanggung jawab terhadap alam. “Makna green adalah meninggalkan budaya-budaya lama yang menggunakan bahan bakar fosil hewani ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya di tengah semarak 1.446 lampu botol yang dipasang pemuda setempat.
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie menyambut baik inisiatif ini sebagai langkah penting menjaga keseimbangan antara pelestarian adat dan tanggung jawab ekologis. Ia menekankan bahwa penggunaan energi terbarukan dalam festival memastikan warisan leluhur tetap hidup selaras dengan alam. “Kita berharap tradisi ini tetap terjaga tanpa mengabaikan tanggung jawab kita terhadap alam,” tegas Idah.
Festival yang berlangsung serentak di berbagai titik seperti Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo dan Taman Menara Keagungan Limboto ini juga dimeriahkan bazar UMKM serta pertunjukan seni Islami. Kolaborasi pemerintah daerah, komunitas pemuda, dan organisasi lingkungan membuktikan bahwa Tumbilotohe bisa terus bersinar sebagai identitas budaya sekaligus praktik gaya hidup berkelanjutan

