Menjelang malam ke-27 Ramadan, tradisi Tumbilotohe kembali menghidupkan sudut-sudut Kota Gorontalo dengan penjualan lampu botol minyak yang mulai ramai. Di Jalan Sam Ratulangi, Kelurahan Limba U1, pedagang seperti Iin Sutomo menata perlengkapan lampu yang akan digunakan warga menyemarakkan malam tradisi. Satu paket berisi lima lampu dijual Rp5.000, begitu pula sumbu per ikat berisi 10 buah.

Namun, kenaikan harga dari pemasok memaksa Iin menyesuaikan strategi. Jika sebelumnya Rp100.000 mendapat 1.000 lampu, kini naik menjadi Rp150.000 untuk jumlah sama. Alih-alih menaikkan harga jual yang berpotensi ditolak pembeli, ia mengurangi jumlah lampu dalam satu paket menjadi empat. “Kalau harga dinaikkan langsung biasanya pembeli keberatan, jadi kami sesuaikan jumlahnya,” jelasnya. Keramaian pembeli biasanya baru memuncak H-2 perayaan, bahkan persediaan minyak tanah sering terbatas akibat tingginya permintaan.

Meski lampu hias modern marak dipasang di sepanjang jalan, lampu minyak tradisional tetap diminati. “Banyak warga masih ingin mempertahankan nuansa asli tradisi Tumbilotohe. Lampu minyak dianggap lebih mencerminkan budaya dan kearifan lokal Gorontalo dibandingkan lampu hias modern,” kata Iin. Pilihan warga untuk tetap menggunakan lampu minyak menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar ritual, tetapi identitas yang dirawat dengan kesadaran penuh.

Penyesuaian harga yang dilakukan pedagang pun mencerminkan dinamika ekonomi mikro yang realistis tanpa mengorbankan aksesibilitas masyarakat terhadap tradisi. Tumbilotohe tetap hidup bukan karena kemewahan, tetapi karena komitmen kolektif menjaga warisan leluhur dalam bentuknya yang paling autentik, meski kondisi pasar berubah.

TumbilotoheTradisi RamadanGorontaloLampu MinyakUMKMKearifan LokalBudaya GorontaloEkonomi Rakyat
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read