Ribuan lampu warna-warni mengubah malam di Kelurahan Ipilo menjadi lautan cahaya yang memukau, menandakan dimulainya tradisi Tumbilotohe pada tiga malam terakhir Ramadan. Festival Tumbilotohe 2026 yang digelar Selasa (17/3) tidak hanya menampilkan deretan lampu dan ornamen Islami berbentuk bintang, tetapi juga menciptakan ruang pertemuan sosial yang masif bagi warga Gorontalo. Pengunjung memadati jalan untuk berjalan kaki, berfoto, dan berburu kuliner di lapak-lapak yang berjajar sepanjang rute festival. Seorang pengunjung mengaku tahun ini terasa lebih meriah dengan jumlah lampu yang lebih banyak dan penataan yang lebih indah dibanding sebelumnya.
Tumbilotohe sendiri merupakan tradisi khas Gorontalo yang melambangkan penerangan jalan menyambut hari kemenangan sekaligus simbol harapan dan kebersamaan. Biasanya dimulai pada malam ke-27 Ramadan, tradisi ini telah berevolusi dari ritual religius menjadi destinasi wisata budaya yang menarik pengunjung lintas daerah. Antusiasme tinggi terlihat dari volume kehadiran warga yang konsisten setiap tahunnya, menjadikan Ipilo sebagai episentrum perayaan jelang Idulfitri. Lampu-lampu yang terpasang bukan sekadar dekorasi visual, melainkan penanda waktu sakral yang menghubungkan generasi masa lalu dengan praktik kontemporer.
Dampak ekonomi dari festival ini terasa langsung oleh pelaku usaha kecil di sekitar lokasi. Pedagang makanan, minuman, dan aksesoris melaporkan lonjakan pembeli yang signifikan sepanjang malam berlangsung. Perputaran uang terjadi secara organik tanpa intervensi program bantuan, didorong murni oleh daya tarik tradisi yang dikelola komunitas. Ketika ribuan orang berkumpul di satu titik selama tiga malam berturut-turut, multiplier effect tercipta bagi warung, parkir, dan jasa foto dadakan. Tumbilotohe membuktikan bahwa pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi lokal bisa berjalan simultan tanpa saling meniadakan.
Festival ini juga berfungsi sebagai ruang publik yang egaliter di mana semua lapisan masyarakat berbaur tanpa sekat kelas sosial. Keluarga muda, remaja, hingga lansia berbagi ruang yang sama di bawah cahaya lampu tradisional dan modern. Kebersamaan yang terbangun bukan hasil rekayasa event organizer, melainkan manifestasi alami dari tradisi yang telah mengakar ratusan tahun. Ketika Tumbilotohe di Ipilo terus berkembang menjadi destinasi wisata budaya, tantangan terbesarnya adalah menjaga autentisitas makna religius di tengah komersialisasi yang tak terhindarkan. Keseimbangan antara pelestarian nilai dan adaptasi pariwisata menjadi kunci agar lautan cahaya ini tetap bersinar dengan makna yang utuh.

