Asap dupa mengepul pelan di antara nyala lilin merah ketika puluhan umat Tridharma berkumpul di Tempat Ibadah Tri Dharma Tulus Harapan Kita, Jalan S. Parman, Kelurahan Biawao, Kota Gorontalo, pada Selasa (17/2). Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang menandai masuknya Tahun Kuda Api berlangsung khidmat sejak pagi hingga malam hari, dengan umat berdatangan untuk memanjatkan doa syukur dan menyongsong tahun baru. Puluhan warga Kota Gorontalo dari berbagai latar belakang juga hadir menyaksikan atraksi barongsai dan tarian tradisional yang ditampilkan anak-anak di halaman klenteng, menciptakan suasana harmoni yang terasa nyata di tengah keberagaman kota tanpa perlu narasi toleransi yang dipaksakan.

Ketua Pengurus TITD Tulus Harapan Kita, Kho Shio Khin, menjelaskan bahwa Tahun Kuda Api memiliki makna filosofis mendalam dalam tradisi Tionghoa. Kuda melambangkan ketangkasan, kekuatan, dan kebebasan melangkah maju, sementara api merepresentasikan energi, keberanian, dan antusiasme yang menyala. "Makna ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk bergerak lebih cepat menuju kebaikan, dengan semangat yang tidak pernah padam," ujarnya. Ia menegaskan bahwa perayaan Imlek bukan sekadar rutinitas budaya, melainkan momentum introspeksi diri dan memperbarui komitmen menjalani kehidupan dengan nilai-nilai yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.

Kho Shio Khin juga menekankan bahwa di tengah keberagaman masyarakat Gorontalo, perayaan Imlek menjadi simbol harmoni antarumat beragama yang hidup secara organik. Doa yang dipanjatkan mencakup permohonan perlindungan dari bencana alam, wabah penyakit, dan perpecahan sosial, serta harapan agar perekonomian bertumbuh dan hasil laut maupun darat melimpah bagi seluruh masyarakat Gorontalo tanpa memandang latar belakang. Nilai kebersamaan ini diperkuat melalui tradisi makan bersama setelah ibadah, yang menjadi ruang silaturahmi dan penguat hubungan kekeluargaan di lingkungan Tridharma sekaligus membuka interaksi dengan warga sekitar.

Atraksi barongsai dan seni bela diri yang ditampilkan menambah kemeriahan sekaligus berfungsi sebagai simbol keberuntungan dalam tradisi Tionghoa yang dinikmati lintas iman. Kehadiran warga non-Tionghoa yang turut menyaksikan menunjukkan bahwa perayaan ini telah melampaui batas etnis dan agama, menjadi bagian dari identitas kultural Gorontalo yang inklusif melalui partisipasi aktif, bukan sekadar seremonial. Ketika anak-anak menari dan barongsai beraksi di halaman klenteng, penonton dari berbagai keyakinan memberikan aplaus yang sama, menandakan penerimaan yang tulus terhadap ekspresi budaya sesama dalam ruang publik yang berbagi.

Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Gorontalo membuktikan bahwa tradisi dapat menjadi perekat sosial yang efektif melalui kehadiran fisik dan penghormatan timbal balik antarwarga. Lilin yang menyala dan doa yang dipanjatkan membawa harapan kolektif bagi seluruh masyarakat Gorontalo, bukan hanya umat Tridharma. Dalam kesunyian ibadah dan keramaian atraksi budaya, tersirat realitas bahwa keberagaman dirawat melalui praktik sehari-hari yang konsisten, menjadikan TITD Tulus Harapan Kita bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga titik temu kultural yang memperkuat kohesi sosial di Bumi Serambi Madinah.

Imlek 2577TITD Tulus Harapan KitaTahun Kuda ApiGorontaloBarongsaiHarmoni Lintas ImanKho Shio KhinTradisi Tionghoa
FacebookThreadsWhatsAppX
3 min read