Langit sore di Kampus 1 IAIN Gorontalo pada Selasa, 17 Februari 2026, menjadi pusat perhatian umat Muslim yang menantikan kepastian awal bulan puasa. Tim BMKG, petugas Rukyatul Hilal, dan pengamat LDII berkumpul dengan peralatan modern, bersiap memantau kemunculan bulan sabit hingga pukul 18.00 WITA. Momen ini bukan hanya soal astronomi, tetapi juga penantian spiritual yang dirasakan jutaan orang.

Koordinasi dengan pusat pengamatan di berbagai daerah dilakukan intensif untuk memastikan akurasi data. Para pengamat menggunakan teknologi terkini menangkap visibilitas hilal di ufuk barat, melengkapi metode hisab yang telah dihitung sebelumnya. Hasil pemantauan dari Gorontalo menjadi salah satu input penting dalam sidang isbat yang menentukan kapan puasa dimulai serentak di Indonesia.

Kegiatan ini mencerminkan perpaduan harmonis sains dan tradisi keagamaan. IAIN Gorontalo menyediakan ruang akademis sekaligus religius untuk proses penentuan waktu ibadah. Keterlibatan multi-instansi menunjukkan penetapan awal bulan hijriah adalah upaya kolektif yang memerlukan presisi ilmiah dan sensitivitas keagamaan.

Bagi masyarakat, pemantauan hilal di kampus juga menjadi edukasi publik tentang bagaimana keputusan keagamaan diambil secara bertanggung jawab. Tidak ada spekulasi atau ketergesaan; yang ada adalah pengamatan cermat, verifikasi data, dan koordinasi nasional. Ketika hilal terlihat atau tidak, umat Muslim dapat menyambut bulan suci dengan keyakinan bahwa penentuannya didasarkan pada proses teliti, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Rukyatul HilalRamadanIAIN GorontaloBMKGPenetapan Awal PuasaAstronomi IslamGorontaloSidang Isbat
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read