Pisang dan kacang tanah menjadi dua dagangan yang paling dicari ribuan warga di Lapangan Batudaa, Kabupaten Gorontalo, Kamis (5/3) malam. Pada malam ke-15 Ramadan itu, tradisi Malam Qunut kembali dipadati masyarakat hingga sesudah salat tarawih.
Tradisi yang telah dirayakan turun-temurun itu kini dikemas masyarakat setempat dalam bentuk festival. Sejak sore, warga dari berbagai wilayah mulai memenuhi area lapangan; keramaian bertambah saat tarawih usai.
Deretan pedagang berjajar di sepanjang jalan dan sekitar lokasi acara. Mereka menawarkan beragam makanan kepada pengunjung, tetapi pisang dan kacang tanah tetap menempati tempat tersendiri dalam kebiasaan Malam Qunut.
Tradisi itu berawal dari kebiasaan warga pada masa lampau. Setiap pertengahan Ramadan, masyarakat beramai-ramai mengisi bak air di masjid, lalu berkumpul di lapangan untuk menikmati kacang dan pisang. Ada pula kisah tentang mandi malam bersama di sumber air setelah tarawih, yang dipercaya sebagai penyucian diri.
Tradisi tahunan tersebut menarik banyak warga dan menimbulkan antrean. Sembari menunggu, masyarakat biasa menikmati kacang serta pisang. Seiring waktu, kebiasaan yang tersisa adalah menyantap dua makanan itu bersama-sama.
Simon Erlam (56) telah membuka lapak dua hari sebelum puncak Malam Qunut. Dagangan utamanya adalah kacang dan pisang, dengan harga kacang tanah sekitar Rp25 ribu dan pisang sekitar Rp20 ribu per ikat.
“Malam qunut orang biasanya mencari pisang dan kacang,” ujar Simon. Ia mengatakan penjualan tahun ini lebih ramai dibanding tahun sebelumnya karena tahun lalu musim hujan dan lokasi becek. Pedagang lain, Izra Demanto (28), juga menilai lokasi yang lebih nyaman membuat pengunjung lebih leluasa datang dan berbelanja.
Pengunjung Faipul (35) membeli dua makanan itu karena kebiasaan masyarakat. “Memang sudah jadi tradisi. Sebenarnya di pasar juga ada, tapi karena tradisi jadi orang datang beli di sini,” katanya.
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi hadir dan berkeliling menyapa warga serta pedagang. Ia menyebut Festival Qunut sebagai kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun. Menurutnya, kegiatan telah berlangsung puluhan tahun, berkembang pula ke Limboto dan Tilango, meski Batudaa tetap menjadi pusatnya. Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengapresiasi warga yang menjaga tradisi tersebut.

