Dua hati memulai janji abadi di tanah Gorontalo, dan dunia maya merespons dengan gelombang kebanggaan yang masif. Syifa Hadju dan El Rumi memamerkan foto prewedding dalam busana adat Biliu dan Makuta berwarna merah dengan caption berbahasa Gorontalo: "Tolipu lopohalaa Hulondalo lipu, Pilo potuwawu liyo hilawo to bandha puluw duwa nuru, to wombu ulai ubuwa mohala’o mo humbuwa". Unggahan berlabel "In the land of Gorontalo, two hearts begin a promise meant to last forever" ini langsung meraih 2,3 juta like dan 40,9 ribu komentar. El Rumi membalas dengan "Wa’u lo hulondalo", menegaskan dirinya kini bagian dari Gorontalo. Respons viral ini membuktikan bahwa representasi budaya lokal di platform global memiliki resonansi emosional yang luar biasa.

Busana yang dikenakan bukan sekadar kostum estetis, melainkan simbol sarat makna. Biliu adalah pakaian kebesaran pengantin perempuan Gorontalo yang melambangkan kemuliaan, kehormatan, dan kesiapan menjadi istri. Kelengkapannya mencakup Baya lo Boute (ikat kepala dengan Layi-layi dan Pongemopa), Kucubu Lo Duhelo (hiasan dada), Bo’o Tunggohu (baju kurung merah lambang keberanian), Lu’ohu (cincin kelingkin lambang kesucian), Pateda (gelang besar lambang keanggunan), dan Alumba/Bide (rok hiasan emas). Sementara El Rumi mengenakan Makuta/Paluwa yang melambangkan kewibawaan dan tanggung jawab kepala keluarga, terdiri dari tudung makuta menjulang, Bo’o, Bantali, dan Taala. Setiap elemen busana menceritakan nilai-nilai luhur yang diwariskan lintas generasi.

Syifa Hadju, putri Andre Moeryawan dan Shendy Hadju, selalu bangga mengaku anak Gorontalo meski kariernya melejit di hiburan nasional. Maia Estianty, ibu El Rumi, turut berkomentar meminta kepastian tanggal pernikahan sambil memuji kecantikan pasangan. Sebelumnya, Biliu dan Makuta juga dikenakan BJ Habibie-Ainun dan Kaesang-Erina dalam momen penting mereka, menegaskan status busana ini sebagai simbol prestise nasional. Setelah unggahan Syifa-El Rumi, banyak warganet Gorontalo turut memamerkan foto pernikahan mereka dalam busana serupa, menciptakan efek domino kebanggaan budaya di media sosial.

Fenomena ini menunjukkan kekuatan soft power budaya ketika dipresentasikan oleh figur publik dengan autentisitas. Syifa tidak sekadar memakai baju adat sebagai properti foto, tetapi menyertakan caption berbahasa daerah dan penjelasan filosofis yang edukatif. Ketika selebriti memilih merayakan identitas kulturalnya di momen paling personal, dampaknya melampaui engagement metrics: ia menormalisasi kebanggaan terhadap warisan lokal di kalangan generasi yang terpapar budaya global. Prewedding Syifa-El Rumi bukan hanya tentang cinta dua insan, tetapi tentang bagaimana tradisi Gorontalo menemukan relevansi baru di era digital tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Syifa HadjuEl RumiPrewedding GorontaloBiliu MakutaAdat GorontaloViral InstagramBudaya LokalPernikahan Adat
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read