Kuburan keluarga yang berada di sekitar rumah serta permukiman masih mudah ditemukan di sejumlah wilayah Gorontalo. Bagi Basri Amin, penampakan tersebut menjadi penanda sejarah sekaligus bagian dari tradisi ziarah kepada leluhur yang hidup di masyarakat Jawa, Tondano, dan Gorontalo. Dalam catatannya, Basri menyoroti tradisi Punggoan yang diwariskan masyarakat Jawa Tondano atau Jaton di Gorontalo. Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian sosio-spiritual dalam memuliakan bulan Ramadan. Punggoan, menurut Basri, memiliki perjalanan panjang. Tradisi tersebut beririsan dengan Islam dan Jawa, berkembang di Tondano, Minahasa, lalu mengalami perpindahan ke Gorontalo sejak awal abad ke-20 ketika ekspansi politik kolonial berlangsung. Ia menulis bahwa Punggoan berhubungan dengan cara masyarakat memaknai kematian dan kehidupan. Tradisi tersebut juga berkaitan dengan hubungan sosial, spiritual, kepemimpinan lokal, kesalehan individu, musyawarah kampung, dan kehidupan agraris. Desa Yosonegoro disebut sebagai salah satu titik penting untuk melihat tradisi Jaton di Gorontalo. Kampung Jawa tertua tersebut memiliki karakter agraris dan agamais, dengan sejumlah tradisi yang dipusatkan di masjid seperti naderan, maleman atau kenduri, ba’do ketupat, pernikahan, serta doa sunatan. Dua masjid utama di Yosonegoro adalah Masjid Al-Muttaqin dan Masjid Al-Mubaraq. Masjid Al-Muttaqin dibangun sekitar 1914 dan mulai digunakan pada 1915. Di dalamnya terdapat beduk, kentungan, mimbar, serta 16 tiang termasuk empat tiang Soko Guru. Basri menilai dokumentasi tradisi perlu dikerjakan melalui data lapangan, telaah historis, dan keterlibatan pelaku utama tradisi agar masyarakat serta lembaga pendidikan memiliki rujukan yang memadai.
Punggoan dan Jejak Ziarah Masyarakat Jawa Tondano di Gorontalo
Kuburan keluarga yang berada di sekitar rumah serta permukiman masih mudah ditemukan di sejumlah wilayah Gorontalo. Bagi Basri Amin, penampakan tersebut menjadi penanda sejarah sekaligus bagian dari tradisi ziarah kepada leluhur yang hidup di masyarakat Jawa, Tondano, dan...

