Sebenarnya, Indonesia Ada di Banuroja, Gorontalo.

Terkadang, mimin sering kepikiran. Kenapa kita di negeri ini sering terpecah belah, terhasut, dan saling mencurigai, hanya karena persoalan beda pilihan. di twitter, ribut soal ini, mulai dari beda pilihan politik hingga berakar ke hal-hal lain, toleransi. Entahlah, ndak tau sampe kapan yang beginian bisa selesai. Masing-masing punya argumen tersendiri, tidak mau kalah.

Dari hal tersebut, terlintas sebuah pikiran tentang sebuah desa di ujung barat Gorontalo, yang toleransi antar masyarakat setempat sangat tinggi. Bagaimana tidak, di desa tersebut bahkan menjadi miniatur Indonesia tersendiri. Ya, desa tersebut bernama Banuroja yang merupakan kepanjangan dari Bali Nusa Tenggara, Gorontalo, Jawa.

Beragam jenis pura bisa ditemukan di Desa Banuroja (foto: Dian Juarsa)

Banuroja adalah desa berpenduduk 1000-an jiwa. Penghuninya adalah transmigran multi etnis. Desa ini mulai dirintis pada awal 1980an. Secara administratif, masuk dalam wilayah kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato. Jaraknya sekitar 250 kilometer sebelah barat Ibu Kota Provinsi Gorontalo. Selain ada empat etnis, di desa tersebut juga ada tiga agama yang dianut warga, yakni Hindu, Islam, dan Kristen. Pemeluk agama Kristen di Banuroja terhitung paling minoritas. Jumlahnya tak sampai 100 orang. Pemukim di Banuroja adalah transmigran dari Bali, Jawa, dan Mataram serta sebagian warga lokal di Gorontalo.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Banuroja. (foto: Fakta News)

Bagi orang Banuroja, toleransi bukan pelajaran penuh teori. Tapi penghayatan dengan harga mati. Itu karena warganya datang dari beragam etnis dan agama. Di atas tanah subur, mereka hidup rukun. Dalam damai, memuja Tuhannya sendiri-sendiri.

Teman-teman kalo mau ke Banuroja, ada nuansa berbeda. Seperti memasuki perkampungan umat Hindu. Hampir setiap rumah dilengkapi pura. Pas mulai ke pusat kota, nuansa tersebut seperti desa pada umumnya. Di depan Kantor Desa, berdiri tegak dinding tembok bertuliskan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan masjid. Sekitar 100 meter dari pesantren, berdiri dua gereja, yakni Gereja Protestan Indonesia Gorontalo dan Gereja Pantekosta.

Gereja di Banuroja, sekitar 100 m dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (foto: De Gorontalo)

Ada tradisi unik di Banuroja yang sampai kini terus-menerus dijaga. Tradisi tersebut adalah bersilaturahim antarpemeluk agama pada hari besar agama masing-masing. Misalnya, saat umat Islam di Banuroja merayakan Idul Fitri, warga pemeluk Hindu dan Kristen berbondong- bondong meramaikan suasana. Warga pemeluk Hindu akan mengirimkan buah-buahan segar dan umat Kristiani menyerahkan aneka macam penganan kepada kaum Muslim. Kue yang dibagikan pada hari raya Idul Fitri adalah kue yang dipesan kepada orang Muslim agar tidak menimbulkan kecurigaan. Itu sudah mereka lakukan setiap Idul Fitri.

Begitupun juga saat umat Hindu dan Kristen merayakan hari besar agama mereka, pimpinan dan perwakilan santri pesantren berkunjung. Maksud kunjungan tersebut semata-mata untuk bersilaturahim dengan tokoh dan warga Hindu serta Kristen. Jalinan silaturahim itu tak pernah absen dilakukan saat Natal dan Nyepi.

Kepala Desa maupun Kepala Dusun di Banuroja bergantian dipimpin oleh masing-masing agama, baik Islam, Hindu maupun Kristen. Hubungan harmonis antarpemeluk dan etnis di Banuroja perlu jadi inspirasi di tengah sentimen isu SARA.
Banuroja tempat toleransi dan sikap menghargai perbedaan tumbuh subur. Tak saling mengalahkan satu sama lain. Sebenarnya, inilah INDONESIA
*tulisan hasil rangkuman dari De Gorontalo, Kompas, Dian Juarsa dan berbagai sumber lainnya.
Facebook Comments

Post Author: gorontalounite

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *