Di kediaman almarhum Rachmat Gobel di Kecamatan Tapa, Bone Bolango, pada Jumat, 10 Juli 2026, suasana khidmat menyelimuti prosesi penganugerahan gelar adat. Dewan Adat Gorontalo secara resmi memberikan penghormatan tertinggi kepada putra daerah yang telah berpulang. Ketua Dewan Adat Gorontalo Alim Niode menjelaskan bahwa pemberian gara’i ini merupakan rangkaian dari proses pemakaman yang dilakukan dalam sidang adat. Pemberian gara’i, gara’i itu adalah gelar kepada orang yang sudah meninggal, tegasnya. Ia menambahkan bahwa gelar memiliki dua tujuan: sebagai doa untuk kemaslahatan almarhum dan sebagai nasihat atau inspirasi bagi yang masih hidup.
Dari Limo Lo Pohalaa yang terdiri dari Pohalaa Gorontalo, Limboto, Suwawa, Boalemo Pohuwato, dan Atinggola, kelima negeri adat bersepakat menganugerahkan gelar Taa Lo’o Lamahe Lipu yang berarti Yang Memakmurkan Negeri. Namun maknanya jauh lebih dalam dari terjemahan harfiah tersebut. Alim menerangkan arti lengkapnya: Taa Lomaya lo batanga, lo dunga lo nyawa, lo tombulu lo upango ode lamahu lipu, yakni Putra Indonesia terbaik berasal dari Gorontalo yang telah membaktikan jiwa, raga, dan hartanya untuk memakmurkan negeri. Gelar ini disepakati dalam sidang adat dan akan dituliskan di makam almarhum.
Pengumuman resmi gelar dapat dilakukan pada acara tujuh hari atau empat puluh hari, namun Alim menekankan lebih cepat lebih baik. Kesepakatan lima negeri adat menunjukkan konsensus budaya yang kuat bahwa pengabdian Rachmat Gobel diakui melampaui sekat-sekat politik dan golongan. Gelar adat bukan sekadar seremonial, melainkan pengukuhan sejarah yang menempatkan sosok almarhum dalam memori kolektif masyarakat Gorontalo sebagai teladan yang abadi.
Bagi keluarga dan masyarakat yang hadir, prosesi ini menjadi penutup yang bermartabat bagi perjalanan panjang seorang tokoh. Ketika nama Taa Lo’o Lamahe Lipu kelak terukir di batu nisan, ia bukan hanya menandai tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga mengingatkan setiap peziarah tentang standar pengabdian yang telah ditetapkan almarhum semasa hidup. Warisan terbesar bukanlah jabatan yang pernah diemban, tetapi kemakmuran yang ditanamkan dan nilai-nilai yang terus hidup dalam ingatan negeri.

