Selama 26 tahun berturut-turut, warga Leato Selatan, Kota Gorontalo, tidak pernah absen merayakan Gebyar Ketupat di Pantai Olalo dengan lomba balap perahu dan perahu hias. Tahun ini, tradisi yang telah berjalan sejak 2000 itu tetap digelar pada Sabtu (28/3/2026) meskipun panitia menghadapi keterbatasan sponsor. Wakil Ketua Panitia Frengki Suwardi menegaskan bahwa antusiasme warga tetap tinggi karena kegiatan ini adalah warisan budaya yang tidak boleh putus. “Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat sekitar yang sudah dari tahun 2000 dilaksanakan, olehnya antusiasme warga melaksanakan tinggi walaupun dengan kurangnya sponsor,” tegasnya pada Jumat (27/3/2026).
Sebanyak 60 perahu terdaftar untuk lomba perahu hias, sementara 8 peserta mendaftar untuk kategori racing dengan mesin 15 PK. Meskipun jumlah peserta racing diperkirakan hanya belasan—jauh dari biasanya yang mencapai ratusan—panitia tetap melakukan pemeriksaan keamanan terhadap seluruh perahu. Gio, salah satu peserta perahu hias, menceritakan persiapannya yang meliputi pemasangan rumbai, penggantian oli, dan pengecekan mesin beberapa hari sebelum lomba. “Persiapannya sudah mau selesai dan besok tinggal mengikuti lomba,” tambahnya.
Selain kompetisi, panitia dan warga juga menyediakan makanan secara terbuka (*open house*) bagi siapa saja yang berkunjung ke Pantai Olalo. Ketiadaan sponsor besar tidak menyurutkan semangat gotong royong yang menjadi nyawa acara ini. Ketika sebuah tradisi bertahan lebih dari dua dekade tanpa bergantung pada pendanaan korporat, itu membuktikan bahwa kekuatan komunitas lokal mampu menjaga warisan budayanya sendiri. Gebyar Ketupat Pantai Olalo bukan sekadar lomba perahu, melainkan perayaan ketahanan sosial warga yang menolak membiarkan identitas kolektif mereka tenggelam oleh keterbatasan materi.

