Malam Tumbilotohe tahun ini bakal punya wajah baru yang lebih tertata namun tetap semarak. Tradisi pasang lampu tiga malam jelang Idulfitri di Gorontalo kini mengusung konsep alikusu (arkus) seragam setinggi dua meter yang akan dipasang di gerbang rumah, kantor, sekolah, dan tempat usaha. Ornamennya khas: janur kuning, minimal lima lampu botol, dan tulisan "Torang Bekeng Bae" yang menjadi identitas kebersamaan warga Gorontalo. Aturan ini tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Gorontalo Nomor 556/Disparpora/480/III/2025, yang juga mengatur pelaksanaan tumbilotohe secara serentak mulai Rabu (26/3) selama tiga malam berturut-turut.
Yang paling menarik dari edaran tersebut adalah arahan penggunaan minyak goreng bekas atau jelantah sebagai bahan bakar lampu botol, menggantikan minyak tanah. Selain lebih ramah lingkungan, jelantah dinilai tahan lama dan memanfaatkan limbah rumah tangga secara produktif. Kepala Disparpora Kota Gorontalo, Zamroni Agus, menekankan bahwa inovasi ini harus tetap disertai kewaspadaan terhadap risiko kebakaran, sehingga penempatan lampu minyak harus memperhatikan aspek keamanan.
Bagi kamu yang ingin menggelar festival lampu dengan bentangan di badan jalan, tinggi minimal bentangan ditetapkan 4,5 meter agar tidak menghalangi kendaraan besar seperti mobil tangki BBM atau pemadam kebakaran. Penggunaan hiburan musik juga diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan nuansa Ramadan. Dengan kombinasi keseragaman visual, kepedulian lingkungan lewat jelantah, dan pengaturan keamanan yang jelas, Tumbilotohe 2025 bukan sekadar pesta cahaya, tapi juga wujud adaptasi tradisi yang cerdas dan bertanggung jawab. Siap-siap menyaksikan ribuan alikusu menyala serentak, menerangi malam-malam terakhir Ramadan dengan semangat gotong royong yang autentik

