Cap Go Meh 2026 di Kota Gorontalo digelar dengan cara yang unik: puncaknya dimulai setelah salat tarawih. Perayaan yang menutup rangkaian Imlek 2577 ini dipusatkan di Klenteng Tulus Harapan Kita pada Selasa, 3 Maret 2026.
Karena berlangsung di tengah Ramadan, jadwal ini dipilih agar tidak mengganggu umat Muslim yang menjalankan ibadah malam.
Cap Go Meh sendiri jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dan menjadi penutup seluruh rangkaian perayaan. Tahun ini, momen itu bertepatan dengan pekan kedua Ramadan.
Ribuan warga padati Cap Go Meh 2026
Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan ini menarik ribuan warga ke kompleks klenteng. Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea membuka acara secara resmi pukul 22.00 WITA.
Adhan menyampaikan selamat kepada warga keturunan Tionghoa dan berharap perayaan membawa kedamaian serta kesejahteraan. Ia menegaskan Pemkot dan aparat keamanan telah memberi izin kegiatan ini.
“Kami harus bersikap rata kepada seluruh umat beragama yang ada di Kota Gorontalo. Pemerintah bukan milik satu golongan saja, tetapi milik semua masyarakat,” ujarnya.
Tradisi syukur yang jadi simbol toleransi
Ketua Klenteng Tulus Harapan Kita menjelaskan Cap Go Meh adalah tradisi turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas berkah dan rezeki. Di Indonesia, perayaan ini juga menjadi simbol toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.
Tema tahun ini adalah “Budaya, Agama, Literasi dan Masa Depan”. Pesannya, keberagaman budaya dan keyakinan perlu berjalan seiring dengan meningkatnya literasi masyarakat.
Atraksi Tatung
Salah satu yang paling ditunggu adalah atraksi Tatung atau Tangsin. Tahun ini, hanya satu Tangsin yang tampil, tetapi antusiasme penonton tetap tinggi.
Perayaan berlangsung kondusif dengan pengamanan dari kepolisian dan TNI. Hingga acara berakhir, warga masih memadati lokasi.
Gorontalo dan wajah kerukunan
Menggelar Cap Go Meh setelah tarawih adalah contoh sederhana bagaimana dua perayaan bisa berjalan tanpa saling mengganggu. Umat Muslim tetap khusyuk beribadah, dan warga Tionghoa tetap bisa merayakan tradisinya.
Bagi anak muda, momen seperti ini bisa jadi kesempatan mengenal budaya tetangga sendiri, tanpa harus pergi jauh dari Gorontalo.

