Di pasar-pasar harian Gorontalo, cabo atau cakar bongkar menjual pakaian, jaket, tas, dan sepatu bekas dengan harga terjangkau. Bagi sebagian warga, barang tersebut menjadi pilihan yang mudah ditemukan. Namun, bagi sebagian lain, pakaian bekas masih dikaitkan dengan gengsi dan status sosial. Fandri Anani, mahasiswa magister di University of Glasgow, menulis bahwa pakaian tidak hanya berfungsi menutupi tubuh. Pakaian juga berkaitan dengan identitas, selera, cara seseorang ingin dilihat, serta pilihan terhadap nilai yang diyakini. Ia menyoroti sisi keberlanjutan dalam cara masyarakat memandang pakaian. Menurut Fandri, industri fesyen menjadi salah satu penyumbang limbah besar melalui produksi berlebihan dan pembuangan tekstil. Dalam konteks tersebut, pakaian preloved menjadi pilihan penggunaan kembali barang yang masih layak pakai. Di Gorontalo, ia mencatat cabo telah menjadi bagian dari ekonomi lokal. Namun, Pemerintah Provinsi Gorontalo mulai melarang peredaran dan penggunaan pakaian bekas impor dengan alasan kebersihan serta kesehatan. Fandri menilai kebijakan tersebut memengaruhi pedagang dan masyarakat yang selama ini mengakses pakaian murah. Ia membandingkan pengalaman di Glasgow. Di kota tersebut, pakaian second-hand hadir melalui pasar thrifting, pasar vintage, acara tukar pakaian, dan toko amal. Menurut Fandri, barang bekas di sana dipakai sebagai pilihan gaya, kreativitas, serta ekspresi diri. Fandri menyebut British Heart Foundation menyediakan titik donasi pakaian di toko amal, kampus, dan pusat komunitas. Pakaian layak pakai yang terkumpul dijual kembali, sementara hasil penjualan disalurkan untuk pasien penyakit jantung serta program kesehatan masyarakat. Ia berpendapat Gorontalo dapat mengadaptasi sistem pengumpulan serta penyaluran pakaian layak pakai dengan penyesuaian lokal. Titik donasi, menurutnya, dapat ditempatkan di pasar, kampus, atau pusat komunitas.

Cabo GorontaloPakaian BekasFandri AnaniGlasgowSustainable FashionLimbah TekstilBritish Heart Foundation
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read