Duta Bahasa Gorontalo 2025 resmi terpilih. Prisilia Putri Naki, mahasiswi Universitas Bina Mandiri (UBM) Gorontalo, menjadi Duta Bahasa Putri, sementara Syaiful Sunge menjadi Duta Bahasa Putra.
Pemilihan Duta Bahasa (Pildubas) Provinsi Gorontalo digelar Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo dan sudah memasuki tahun ke-15. Puncak acaranya berlangsung pada Jumat, 4 Juli 2025.
Keduanya dinilai cakap berbahasa Indonesia dengan baik dan punya kepedulian nyata terhadap pelestarian bahasa daerah Gorontalo.
Bahasa daerah makin terpinggirkan
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo Arie Andrasyah Isa menegaskan Pildubas bukan sekadar seremoni. Menurutnya, ini upaya konkret menyelamatkan bahasa dan sastra daerah yang makin terpinggirkan.
“Banyak anak muda saat ini fasih berbahasa asing, tetapi tidak mengenal bahasa ibunya sendiri. Ini ancaman nyata bagi identitas budaya. Duta Bahasa harus menjadi sosok yang menjembatani kecakapan berbahasa dengan komitmen pelestarian,” ujarnya.
Pernyataan ini terasa relevan dan cukup menohok. Banyak anak muda lebih akrab dengan bahasa gaul atau bahasa asing di media sosial dibanding bahasa daerahnya sendiri.
Bahasa Indonesia dan bahasa daerah berjalan bersama
Menurut Arie, pelestarian bahasa daerah dan penguatan bahasa Indonesia harus berjalan beriringan sebagai fondasi karakter bangsa.
Pemilihan ini juga merujuk pada regulasi kebahasaan, seperti Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 dan Perpres Nomor 63 Tahun 2019.
Bukan sekadar ikon
Menurut Arie, pemenang Pildubas tidak boleh berhenti di gelar. Mereka diharapkan turun langsung ke masyarakat, mengajak orang membaca dan menjaga bahasa daerah.
“Kami ingin Duta Bahasa menjadi inspirasi bahwa mencintai bahasa daerah bukan hal kuno, tapi bagian dari jati diri bangsa,” tegasnya.
Ia juga berterima kasih kepada panitia dan semua pihak yang mendukung. “Tanpa kerja kolektif dan dedikasi tinggi, kegiatan ini tidak mungkin berjalan. Terima kasih kepada semua yang telah menyumbangkan tenaga dan pikiran demi keberlangsungan bahasa kita,” pungkasnya.
Buat anak muda Gorontalo, pesan ini bisa jadi pengingat: bahasa daerah bukan hal kuno, dan memakainya dalam obrolan sehari-hari adalah cara paling sederhana untuk menjaganya.

