Embarkasi haji penuh (EHP) Gorontalo selangkah lebih dekat. Gubernur Gusnar Ismail meletakkan batu pertama perluasan kawasan Bandara Djalaludin Gorontalo pada Jumat, 20 Februari 2026.
Sejak 2007, Gorontalo berstatus embarkasi haji antara (EHA). Jemaah harus transit di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, sebelum terbang ke Jeddah. Dengan status EHP, jemaah bisa terbang langsung dari Gorontalo ke Arab Saudi.
Bandara Djalaludin siap untuk Boeing 777
Tahap pertama meliputi perluasan apron dan pembuatan taxiway, dengan anggaran Rp40 miliar dari Kementerian Perhubungan. Apron yang lebih luas memungkinkan pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777, berkapasitas 415 penumpang, mendarat di Gorontalo.
Pada 2027, pekerjaan berlanjut dengan pelapisan runway 2.500×45 meter setebal 10 cm, perluasan turning pad, dan optimalisasi alat bantu pendaratan visual. Bandara ditargetkan beroperasi sebagai EHP paling lambat 2028.
Surat pertama sebagai gubernur
Bagi Gusnar, momen ini punya makna pribadi. Setahun sebelumnya, tepat pada awal Ramadan setelah mengikuti retret kepala daerah, surat pertama yang ia tandatangani sebagai gubernur menyangkut keberangkatan jemaah haji lewat embarkasi antara. Sejak itu, ia bertekad mewujudkan embarkasi haji penuh.
“Persiapannya sudah selesai dan untuk tahun ini kita akan memulai tahap satu yaitu pembangunan perluasan apron dengan anggaran 40 miliar” ujar Gusnar.
Menjawab kritik: bukan cuma setahun sekali
Ada kritik bahwa bandara EHP hanya terpakai sekali setahun saat musim haji. Gusnar menilai status ini juga akan mendorong keberangkatan umrah langsung dari Gorontalo.
“Masyarakat Gorontalo yang berumrah tahun 2024 itu sekitar 3000 hingga 4000, tapi mereka berangkat dari Makassar atau Jakarta, Saya yakin dan percaya kalau ini jadi embarkasi haji, maka sekaligus ini menjadi embarkasi umrah. Jadi orang berumrah disini akan meningkat dan akan menggerakan perekonomian kita,”jelas Gusnar.
Apa untungnya buat warga?
Bagi jemaah lansia, penerbangan langsung berarti perjalanan lebih singkat dan tidak melelahkan. Bagi keluarga, biaya dan waktu pengantaran juga bisa lebih hemat.
Di sisi ekonomi, arus jemaah dan pengantar bisa menghidupkan hotel, katering, transportasi, dan UMKM di sekitar bandara.




