Tradisi makan ketupat pasca-Idulfitri di kawasan Tanggidaa telah berevolusi dari kebiasaan komunitas menjadi festival budaya terorganisir yang berpotensi menjadi ikon wisata religi Kota Gorontalo. Festival Atupato Tanggidaa 2026 yang digelar Sabtu (28/3/2026) memadati Masjid Al Mubarak Dulomo Utara dan Lorong Ketupat Kampung Iklim dengan warga yang merayakan kebersamaan pasca-Lebaran. Wakil Wali Kota Indra Gobel menegaskan bahwa Atupato lebih dari perayaan tahunan; ia adalah ruang memperkuat silaturahmi setelah Ramadan dan Idulfitri. Penggunaan istilah "Atupato" menggantikan "Hari Ketupat" adalah upaya sadar mempertegas identitas lokal dan membedakan tradisi Gorontalo dari perayaan serupa di daerah lain.

Ketua Panitia Jamaludin Kadir mengungkapkan bahwa festival ini lahir dari inisiatif masyarakat dengan pendanaan mayoritas dari swadaya warga dan Badan Takmirul Masjid. Dukungan pemerintah dan swasta bersifat tambahan, bukan dominan. Kekuatan utama Atupato terletak pada kolaborasi organik Karang Taruna, remaja masjid, dan kelompok masyarakat setempat. Model bottom-up ini menjamin autentisitas festival karena dikelola oleh pemilik tradisi itu sendiri, bukan dikte birokrasi. Indra Gobel mendorong penguatan identitas lokal ini sebagai fondasi pengembangan wisata religi yang berkelanjutan. "Kalau dikemas dengan serius, ini bisa menjadi event yang ditunggu-tunggu dan memberi dampak ekonomi," ujarnya.

Ambisi menjadikan Atupato sebagai agenda wisata religi menuntut profesionalisasi pengelolaan tanpa mengorbankan spirit komunitas. Panitia berharap festival ditetapkan sebagai agenda resmi tahunan Pemkot Gorontalo untuk mendapatkan dukungan promosi dan infrastruktur yang lebih kuat. Sinergi antara inisiatif warga dan fasilitasi pemerintah adalah formula ideal: masyarakat menjaga substansi budaya, pemerintah menyediakan amplifikasi dan konektivitas. Ketika tradisi lokal dikemas dengan standar event management yang baik tanpa kehilangan akar komunitasnya, ia menjadi produk wisata yang autentik dan tidak mudah direplikasi daerah lain.

Transformasi Atupato dari tradisi lorong menjadi festival kota mencerminkan dinamika budaya yang sehat: melestarikan warisan sambil beradaptasi dengan konteks kontemporer. Di era ketika destinasi wisata bersaing memperebutkan perhatian, keunikan kultural adalah diferensiator terkuat. Atupato menawarkan pengalaman yang tidak bisa dibeli di mal atau taman bermain: kehangatan komunitas, rasa masakan rumahan, dan spiritualitas yang hidup. Jika dikelola dengan bijak, festival ini tidak hanya mendatangkan wisatawan, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan kebanggaan identitas warga Tanggidaa. Tradisi yang bertahan adalah tradisi yang terus menemukan cara baru untuk relevan, dan Atupato sedang menulis bab barunya.

Festival AtupatoTradisi KetupatWisata ReligiTanggidaaIndra GobelBudaya GorontaloEvent WisataSilaturahmi Lebaran
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read