Di balik gemerlap panggung Festival Pesona Danau Limboto (FPDL) 2019, tersimpan misi serius menyelamatkan ekosistem danau yang kian renta. Wakil Gubernur Idris Rahim saat membuka acara di halaman Kantor Bupati Gorontalo, Sabtu (21/9/2019), menegaskan bahwa festival yang masuk Calendar of Event Wonderful Indonesia ini harus menjadi etalase budaya takbenda seperti Paiya Lo Hungolopoli dan Tidi Lo Polopalo agar tidak punah dimakan zaman. "Tujuannya agar budaya kita tidak hilang dan tetap lestari," kata Idris.

Bupati Nelson Pomalingo menambahkan bahwa FPDL lahir dari keprihatinan terhadap kerusakan Danau Limboto, sehingga aksi bersih danau serta konferensi anak untuk danau menjadi agenda wajib. Edukasi lingkungan sejak dini dianggap kunci agar generasi penerus tidak mewarisi danau yang mati. Strategi ini ternyata berkorelasi dengan kepercayaan investor; catatan investasi Kabupaten Gorontalo melonjak drastis dari Rp150 miliar pada 2016 menjadi target Rp2 triliun di 2019, dengan pariwisata sebagai salah satu motor utamanya.

Idris mengingatkan bahwa membangun destinasi wisata kelas dunia tidak mudah dan butuh promosi masif yang dimulai pemerintah lalu dilanjutkan swasta. Ketika budaya dilestarikan dan lingkungan dijaga, dampaknya bukan hanya tepuk tangan penonton, tetapi perputaran ekonomi yang meningkatkan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan masyarakat sekitar danau. FPDL membuktikan bahwa pelestarian dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan beriringan jika dikelola dengan visi yang jelas.

Festival Pesona Danau LimbotoPariwisata GorontaloKonservasi DanauInvestasi DaerahBudaya Gorontalo
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read