Festival Qunut di Lapangan Tabongo, Desa Ilomangga, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, dipadati ribuan warga pada Kamis malam, 5 Maret 2026, sekitar pukul 21.00 WITA. Festival ini digelar setiap malam ke-15 Ramadan.
Tradisi ini lahir dari inisiatif warga dan punya akar sejarah yang panjang. Dulu, Tabongo masih bagian dari Kecamatan Batudaa. Sejak pemekaran pada 2008, tradisi ini tetap dijaga di kedua kecamatan sebagai simbol persatuan.
Makna pisang dan kacang di Festival Qunut
Inti dari festival ini adalah menyantap pisang dan kacang bersama-sama. Menurut Wakil Ketua Panitia, Fazriyanto Ma’ruf, keduanya melambangkan keterikatan erat antarsesama.
Pisang dan kacang dianggap sebagai pasangan nikmat yang tak terpisahkan, sama seperti hubungan kekeluargaan yang diharapkan tetap dekat meski terpisah jarak.
UMKM naik dua kali lipat
Festival yang berlangsung selama tiga hari itu juga menggerakkan ekonomi warga. Selain hidangan tradisional, ada juga jajanan modern. Penjualan UMKM disebut naik hingga dua kali lipat.
Dampak itu membuat Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo memasukkan Festival Qunut ke dalam daftar ikon budaya sekaligus destinasi wisata daerah.
Digerakkan anak muda
Malam puncak dihadiri Wakil Bupati Gorontalo dan jajaran pemerintah daerah. Kegiatannya berjalan aman berkat kolaborasi pemuda, mahasiswa yang tergabung dalam KNPI, tokoh masyarakat, dan kepolisian.
Fazriyanto berharap pemerintah memberi perhatian lebih, terutama dukungan pendanaan. Tujuannya agar festival tetap eksis sebagai identitas budaya dan mampu menarik wisatawan dari luar daerah.
Tradisi yang layak dijaga
Di tengah maraknya acara modern, Festival Qunut menunjukkan bahwa tradisi lokal masih punya daya tarik besar. Kuncinya ada pada keterlibatan anak muda, yang membuat tradisi lama terasa relevan tanpa kehilangan maknanya.
Kalau kamu belum pernah datang, catat jadwalnya: malam ke-15 Ramadan tahun depan. Datang setelah tarawih agar bisa merasakan puncak keramaiannya, dan jangan lupa mencicipi pisang serta kacang sebagai menu wajib.
Sebagai catatan, tradisi serupa juga digelar di Batudaa, kecamatan induk Tabongo sebelum pemekaran. Dua lokasi ini sama-sama menjaga warisan yang sama dengan caranya masing-masing.

