Di panggung Grand Final Pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) 2019 di Gedung Belle Li Mbu’i, Sabtu (9/3/2019), pesan yang disampaikan bukan sekadar tentang kecantikan atau ketampanan, tetapi tentang krisis multidimensi yang dihadapi remaja Gorontalo. Sekretaris Daerah Darda Daraba membuka acara dengan peringatan serius. “Permasalahan remaja saat ini sangat kompleks dan cukup mengkhawatirkan dimana masih tingginya kenakalan remaja, penggunaan napza, seks pranikah, tingginya angka pernikahan dini dan tindakan negatif lainnya,” ujarnya, menekankan bahwa Duta Genre diharapkan menjadi agen perubahan perilaku.

Kepala BKKBN Provinsi Gorontalo Edi Muin menambahkan bahwa ajang yang telah berjalan satu dekade ini bukan kompetisi prestise semata, melainkan alat pendekatan edukatif. Menjadi juara hanyalah variabel antara; tujuan utamanya adalah membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan hidup. Dari 32 finalis yang dikarantina selama seminggu dengan berbagai pembekalan, hanya satu pasang yang akan mewakili Gorontalo ke tingkat nasional. Ketika sebuah ajang pemilihan duta mengangkat isu-isu tabu seperti seks pranikah dan napza secara terbuka di forum publik, ia sedang mendobrak stigma dan menciptakan ruang aman bagi remaja untuk berbicara tentang masalah mereka. Duta Genre bukan selebriti lokal, tetapi peer educator yang diharapkan mampu menjangkau sesama remaja dengan bahasa dan pendekatan yang tidak bisa dicapai oleh program pemerintah formal.

Duta Genre GorontaloBKKBN GorontaloDarda DarabaEdi Muinkesehatan remajapernikahan dininapzagenerasi berencana
FacebookThreadsWhatsAppX
1 min read