Green Tumbilotohe 2025 membawa pesan baru untuk tradisi malam pasang lampu di Gorontalo: tinggalkan minyak tanah. Pada malam 26 Ramadan atau 26 Maret 2025, warga Gorontalo mulai menjalani tradisi Tumbilotohe yang berlangsung tiga malam.
Tahun ini, festival Tumbilotohe mengusung tema “green”. Pemerintah daerah mendorong warga memakai bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Apa arti “green” dalam Green Tumbilotohe 2025?
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo Aryanto Husain menjelaskan, ada dua kata kunci dalam acara ini: green dan Tumbilotohe.
“Jika tumbilotohe mungkin masyarakat sudah tahu, karena sudah turun temurun dilaksanakan di masyarakat Gorontalo. Nah konsep Green, mengilustrasikan kesadaran masyarakat tentang pembangunan berkelanjutan melalui green tourism,” ujarnya.
Warga didorong kembali memakai ornamen Tumbilotohe tradisional seperti tohe tutu dan padamala, dengan bahan bakar minyak kelapa, jelantah, atau bahan lain yang tidak mengeluarkan emisi karbon.
“Jika kita terus menggunakan minyak tanah, maka kegiatan ini akan menyumbang emisi karbon yang cukup besar. Oleh karena itu, pemerintah mendorong penggunaan minyak kelapa sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan,” jelas Aryanto.
Digelar serentak di enam daerah
Green Tumbilotohe digelar serentak di sejumlah titik: Lapangan Taruna Remaja Kota Gorontalo, Taman Menara Keagungan Limboto, Desa Leboto dan Cisadane di Gorontalo Utara, Lapangan Molombulahe di Boalemo, Lapangan Buntulia di Pohuwato, dan Center Point Bone Bolango.
Di Kota Gorontalo, festival di Lapangan Taruna Remaja dihadiri ratusan warga, termasuk siswa yang ikut pawai obor. Wali Kota Adhan Dambea menyebut kegiatan ini upaya menjaga tradisi yang bebas polusi udara.
1.446 lampu botol di Buntulia
Di Pohuwato, festival digelar Pemuda Buntulia di Desa Buntulia Utara, dengan persiapan sejak 15 hingga 26 Ramadan. Ada 1.446 lampu botol yang dipasang, lengkap dengan dekorasi tohetutu, tonggoloopo, dan padamala.
Panitia Azhar Badiu mengakui mereka masih memakai 50 persen bahan bakar fosil, tetapi mulai beralih ke jelantah. “Makna green adalah meninggalkan budaya-budaya lama yang menggunakan bahan bakar fosil hewani ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie menyambut baik konsep ini. “Tema Tumbilotohe tahun ini menitikberatkan pada aspek keberlanjutan dengan penggunaan sumber energi terbarukan dan material ramah lingkungan. Kita berharap tradisi ini tetap terjaga tanpa mengabaikan tanggung jawab kita terhadap alam,” katanya.

