Kebaya Karawo karya House of Abhie jadi sorotan dalam fashion show Gebyar UMKM 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Gorontalo pada akhir April 2026. Pemakainya adalah Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie.
Idah tampil sebagai peserta tamu pertama di atas catwalk. Penampilannya yang anggun dan percaya diri disambut tepuk tangan meriah para tamu undangan.
Detail kebaya Karawo yang dipakai
Warna kebayanya salmon tua, dihiasi sulaman Karawo di beberapa bagian. Sebagai bawahan, Idah memilih kain batik klasik berwarna cokelat tua.
Pilihan warna yang kalem membuat detail sulaman lebih menonjol, sementara batik memberi kesan formal namun tetap hangat.
Perpaduan ini menunjukkan bahwa Karawo bisa berdampingan dengan wastra Nusantara lain tanpa kehilangan karakternya.
Tentang House of Abhie
House of Abhie adalah perancang busana Karawo yang menjadi UMKM binaan BI Gorontalo. Karya-karyanya kerap tampil di ajang fesyen bergengsi tingkat nasional.
Keberhasilan UMKM seperti House of Abhie menunjukkan bahwa kerajinan tradisional bisa menjadi bisnis fesyen yang serius, bukan sekadar produk suvenir.
Karawo tidak kaku
Usai tampil, Idah menegaskan bahwa Karawo punya fleksibilitas tinggi.
“Karawo itu tidak kaku, justru bisa dipadupadankan dengan berbagai jenis kain seperti batik. Ini menunjukkan bahwa Karawo semakin berkembang dan bisa tampil elegan di berbagai kesempatan,” ujar Idah.
Ia berharap kecintaan warga pada produk lokal terus tumbuh, dan pelaku UMKM terus berinovasi mengembangkan desain Karawo agar makin diminati pasar.
Karawo untuk generasi muda
Karawo adalah teknik sulam khas Gorontalo yang dibuat dengan mengiris dan mencabut benang kain sebelum disulam kembali. Prosesnya rumit dan butuh ketelatenan, sehingga setiap helai punya nilai tinggi.
Buat anak muda, Karawo sekarang tidak lagi identik dengan acara resmi. Potongan modern seperti outer, kemeja, atau aksen pada kebaya bisa dipakai untuk kuliah, kerja, atau nongkrong.
Memakainya juga berarti ikut menghidupkan para perajin lokal yang menggantungkan penghasilan dari sulaman ini. Sebagian besar perajin Karawo adalah perempuan di desa-desa Gorontalo.

