Mohammad Kilat Wartabone, mantan Wakil Bupati Bone Bolango, meninggal dunia pada Ahad malam, 7 Juni 2026, pukul 18.45 WITA di Rumah Sakit Aloei Saboe. Ia wafat dalam usia 65 tahun akibat komplikasi diabetes.
Warga Bone Bolango berduka. Mereka mengenang almarhum sebagai pribadi yang bersahaja, murah senyum, dan tak berjarak dengan warga biasa. Dalam sumber, namanya ditulis Mohammad maupun Mohamad.
Perawatan sebelum wafat
Suasana haru terasa saat jenazah tiba di rumah duka di Kecamatan Suwawa. Adiknya, Kris Wartabone, menyebut almarhum sempat dirawat beberapa hari.
“Beliau memang sudah beberapa hari dirawat. Ada infeksi di bagian kaki akibat komplikasi diabetes,” ujar Kris.
Keluarga berupaya memakamkan almarhum sebelum tengah hari, sementara lokasi pemakaman masih dimusyawarahkan bersama keluarga besar. Warga dan kerabat datang silih berganti ke rumah duka sejak malam.
Jejak Kilat Wartabone di Bone Bolango
Kilat Wartabone adalah Wakil Bupati Bone Bolango pertama, mendampingi Bupati Ismet Mile pada periode 2005–2010. Pada 2014, ia dilantik lagi sebagai wakil bupati dan menuntaskan sisa periode 2010–2015.
Setahun kemudian, pada Pilkada 2015, ia berpasangan dengan Hamim Pou dan kembali memenangkan kursi wakil bupati.
Pemersatu yang mengedepankan dialog
Bagi keluarga, almarhum bukan sekadar tokoh politik. Ia dikenal sebagai pemersatu yang tidak pernah menyelesaikan masalah dengan emosi, melainkan dengan dialog dan musyawarah.
Di akhir hayatnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, anak, dan cucu.
“Beliau lebih banyak di rumah dan ke masjid. Waktu bersama keluarga menjadi hal yang paling beliau nikmati,” tambah Kris.
Doa tentang usia 66
Ada satu cerita yang membekas bagi keluarga. Menurut istrinya, almarhum sering berdoa agar dipanggil Allah pada usia 66 tahun.
“Istri beliau pernah bercerita bahwa almarhum sering berdoa agar dipanggil Allah pada usia 66 tahun. Mungkin karena berbagai cita-cita dunia sudah tidak lagi menjadi fokus beliau,” ungkap Kris.
Kepergian Kilat Wartabone menjadi kehilangan besar bagi Bone Bolango. Sikapnya yang menyejukkan akan terus dikenang warga yang pernah merasakan pengabdiannya.

