Lebaran Atupato. Itulah istilah yang ingin dipopulerkan Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel sebagai sebutan lokal untuk Lebaran Ketupat. Ajakan ini ia sampaikan saat menghadiri Pawai Obor dan Festival Kolak Ubi di Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, pada Minggu malam, 8 Maret 2026.
Menurut Indra, festival bernuansa tradisi punya peran penting menjaga nilai adat Gorontalo di tengah arus modernisasi.
Generasi muda mulai jauh dari adat
Indra menilai sebagian anak muda mulai kurang mengenal budaya daerahnya. Karena itu, kegiatan budaya perlu terus digelar sebagai sarana edukasi.
“Generasi muda sekarang mulai kurang mengenal adat dan budaya daerah. Ini yang harus kita bangkitkan kembali. Momentum kegiatan seperti ini sangat penting untuk menanamkan kembali nilai-nilai adat dalam kehidupan masyarakat,” ujar Indra.
Kenapa Lebaran Atupato?
Bagi Indra, bahasa adalah bagian utama dari identitas budaya. Salah satu cara menghidupkannya adalah memakai istilah lokal untuk tradisi yang sudah dikenal luas.
“Atupato” adalah kata dalam bahasa Gorontalo untuk ketupat. Tradisi Lebaran Ketupat sendiri dirayakan warga sepekan setelah Idulfitri.
“Kenapa tidak kita gunakan istilah Lebaran Atupato? Kita harus mengangkat bahasa Gorontalo. Semua yang berkaitan dengan nilai keagamaan dan budaya harus kita perkuat dan kita siarkan bahwa Gorontalo benar-benar Serambi Madinah,” tegasnya.
Citra Serambi Madinah
Indra menyebut penguatan tradisi dan bahasa daerah adalah cara menjaga citra Gorontalo sebagai daerah religius yang kaya budaya. Ia berharap festival budaya dan istilah lokal terus digalakkan agar dikenal luas, termasuk oleh warga luar daerah.
“Identitas kita sebagai daerah Serambi Madinah harus terus kita angkat setinggi-tingginya. Dengan begitu, masyarakat luar juga akan mengetahui bahwa Gorontalo memiliki tradisi yang kuat dan religius,” pungkasnya.
Mulai dari hal kecil
Menghidupkan bahasa daerah tidak harus rumit. Memakai istilah seperti Lebaran Atupato di obrolan sehari-hari, caption media sosial, atau ucapan hari raya sudah menjadi langkah nyata.
Anak muda Gorontalo punya peran besar di sini. Kalau istilah lokal sering muncul di konten yang mereka buat, bahasa daerah akan terasa keren, bukan kuno.

