Pembukaan PENAS XVII atau Pekan Nasional Petani Nelayan ke-17 di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, berlangsung semarak pada Sabtu, 20 Juni 2026. Sejumlah kontingen datang mengenakan pakaian adat daerah masing-masing.

Kontingen Kalimantan Tengah yang tiba sejak pagi jadi incaran peserta lain untuk berfoto bersama.

Parade pakaian adat di pembukaan PENAS XVII

Selain Kalimantan Tengah, pakaian adat juga ditampilkan kontingen Aceh, Kalimantan Timur, Papua Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan daerah lainnya.

Deretan busana daerah itu membuat pembukaan terasa seperti festival budaya nusantara di tengah Gorontalo.

Tiga provinsi peserta terbanyak

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail mengapresiasi para peserta yang membawa keunikan daerahnya. Menurutnya, ribuan peserta menunjukkan besarnya semangat petani dan nelayan untuk memperkuat sektor pangan.

“Ada tiga provinsi dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu Sulawesi Utara sebanyak 1.574 peserta, disusul Sulawesi Tengah 901 peserta, dan Kalimantan Timur 667 peserta. Setiap kontingen memiliki cerita perjalanan yang unik dan penuh perjuangan untuk bisa hadir di Gorontalo,” kata Gusnar.

Dibuka dengan polopalo

PENAS XVII dibuka Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ditandai dengan memukul polopalo, alat musik tradisional Gorontalo dari bambu.

Hadir Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Anggota DPR RI Dapil Gorontalo Rachmat Gobel, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Wakil Menteri Perhubungan, serta pejabat pusat dan pimpinan perusahaan sektor pertanian. Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, Bupati Sofyan Puhi, dan sejumlah kepala daerah juga hadir.

Kenapa pembukaan ini berkesan

Memakai polopalo untuk membuka acara nasional adalah cara cerdas memperkenalkan budaya Gorontalo. Ribuan peserta dari berbagai provinsi langsung melihat dan mendengar alat musik khas daerah ini di momen paling ramai.

Di sisi lain, parade pakaian adat dari berbagai daerah menunjukkan bahwa petani dan nelayan juga pembawa identitas budaya. PENAS bukan hanya soal teknologi pertanian, tetapi juga pertemuan budaya.

Bagi warga Gorontalo, kesempatan seperti ini jarang datang. Melihat langsung keberagaman Indonesia di halaman sendiri bisa jadi pengalaman yang memperkaya wawasan, terutama bagi pelajar dan anak muda.

2 min read