Ribuan warga memadati Lapangan Tabongo, Desa Ilomangga, Kabupaten Gorontalo, pada Kamis (5/3) malam untuk merayakan puncak Festival Qunut, tradisi religius-budaya yang dilaksanakan setiap malam ke-15 Ramadan. Inti festival ini adalah menyantap hidangan pisang dan kacang yang secara filosofis melambangkan keterkaitan erat antarsesama manusia, sebagaimana hubungan kekeluargaan yang diharapkan tetap kuat meski terpisah jarak. Wakil Ketua Panitia Fazriyanto Ma'ruf menjelaskan bahwa kehadiran kedua makanan ini bukan pilihan acak, melainkan simbol kenikmatan yang tidak terpisahkan. Tradisi yang lahir dari inisiatif masyarakat ini telah bertahan sejak Tabongo mekar dari Kecamatan Batudaa pada 2008, menjadi penanda persatuan dua wilayah yang pernah bersatu.

Selain dimensi kultural, Festival Qunut telah bertransformasi menjadi penggerak ekonomi lokal yang signifikan. Kehadiran jajanan modern di samping hidangan tradisional membantu omzet UMKM meningkat hingga dua kali lipat selama tiga hari penyelenggaraan. Dinas Pariwisata Kabupaten Gorontalo kini secara resmi mencatat festival ini sebagai ikon budaya dan destinasi wisata, mengakui dampak gandanya terhadap perekonomian akar rumput. Wakil Bupati Gorontalo beserta jajaran pemerintah daerah hadir memberikan dukungan moral, sementara kolaborasi pemuda, mahasiswa KNPI, tokoh masyarakat, dan kepolisian menjamin keamanan dan ketertiban acara.

Fazriyanto berharap tradisi positif ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah, terutama dalam hal pendanaan, agar Festival Qunut tetap eksis sebagai identitas budaya kebanggaan yang mampu menarik wisatawan luar daerah. Permintaan ini mencerminkan dinamika umum festival berbasis komunitas: berhasil tumbuh organik hingga mencapai skala yang memerlukan dukungan institusional untuk keberlanjutan. Tantangannya adalah bagaimana intervensi pemerintah tidak membunuh spirit swadaya yang menjadi DNA festival. Dukungan yang ideal bersifat enabling, bukan mengambil alih, misalnya melalui fasilitasi infrastruktur, promosi, atau pelatihan manajemen event tanpa mendikte substansi tradisi.

Simbolisme pisang dan kacang di Festival Qunut mengajarkan bahwa persatuan bukan abstraksi politik, melainkan praktik kultural yang dialami tubuh melalui rasa dan kebersamaan makan. Ketika ribuan orang duduk bersama menyantap hidangan sederhana yang sama, hierarki sosial sementara runtuh digantikan solidaritas komunal. Transformasi festival dari ritual internal menjadi destinasi wisata menunjukkan adaptabilitas tradisi terhadap konteks ekonomi kontemporer. Asalkan makna filosofis pisang-kacang tidak tergantikan oleh komodifikasi berlebihan, Festival Qunut akan tetap relevan sebagai ruang di mana identitas budaya dan kesejahteraan ekonomi saling menguatkan, bukan saling meniadakan.

Festival QunutTabongoTradisi RamadanPisang KacangUMKM GorontaloWisata BudayaKNPIIdentitas Lokal
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read