Target investasi Gorontalo tahun 2026 naik menjadi Rp5,86 triliun, dari Rp5,03 triliun pada 2025. Angka ini terungkap dalam rapat konsolidasi di ruang rapat Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Gorontalo pada Kamis, 9 April 2026.
Rapat ini menindaklanjuti surat Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM soal target realisasi investasi 2026.
Realisasi 2025 lampaui target
Tahun lalu, realisasi investasi Gorontalo mencapai Rp5,27 triliun atau 104,80 persen dari target. Capaian ini menjadi modal optimisme menghadapi target yang lebih tinggi.
“Di tengah efisiensi anggaran, target investasi Provinsi Gorontalo tahun ini justru naik menjadi Rp5,86 triliun. Ini menjadi tantangan bagi kita semua dengan menjaga semangat dan optimisme untuk mencapai target investasi yang lebih tinggi,” kata Kepala DPMPTSP Sri Wahyuni D. Matona.
Pembagian target investasi Gorontalo per daerah
Target itu dibagi ke kabupaten dan kota. Pohuwato mendapat porsi terbesar, yakni Rp3,11 triliun atau 53,12 persen.
Berikutnya Kabupaten Gorontalo 19,44 persen, Kota Gorontalo 10,52 persen, dan Gorontalo Utara 9,69 persen. Bone Bolango mendapat 5,09 persen, sedangkan Boalemo 2,14 persen.
Sektor unggulan
Rapat juga memetakan sektor yang berpeluang menarik investasi, sejalan dengan program prioritas Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah. Di antaranya hilirisasi peternakan ayam terintegrasi, pertambangan rakyat, dan UMKM.
Tantangan di daerah
DPMPTSP kabupaten dan kota menyampaikan sejumlah kendala. Anggaran pengawasan terbatas, perizinan terhambat regulasi tata ruang, dan serapan tenaga kerja menurun.
Kendala perizinan terkait tata ruang, misalnya, bisa membuat calon investor menunda rencana. Beberapa daerah juga mengusulkan penyesuaian target agar sesuai kondisi dan perencanaan masing-masing.
Apa artinya bagi warga?
Investasi idealnya membuka lapangan kerja baru. Namun, catatan soal menurunnya serapan tenaga kerja menunjukkan bahwa nilai investasi besar belum otomatis berarti banyak pekerjaan bagi warga lokal.
Karena itu, selain mengejar angka, pemerintah perlu memastikan investasi yang masuk, terutama di sektor tambang dan peternakan, benar-benar menyerap tenaga kerja Gorontalo dan tetap ramah lingkungan.




