Terumbu karang Botutonuo di Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, perlahan hidup kembali. Kawasan barrier reef yang dulu tinggal patahan karang mati kini dipenuhi karang muda yang tumbuh di atas rangka baja heksagonal.
Pemulihan ini adalah buah kerja bareng peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG), kelompok masyarakat pesisir, dan pemerintah. Warga yang dulu menyebut perairan itu “laut mati” kini kembali melihat ikan berenang.
Terumbu karang Botutonuo dan metode spider reef
Kepala Pusat Kemaritiman LPPM UNG, Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, menjelaskan program ini bermula pada 2018 lewat program nasional KLHK. Awalnya dipakai media balok beton di kedalaman tiga meter.
Tantangannya berat. Pandemi pada 2020 membatasi kerja lapangan, dan hanya sekitar 30 persen fragmen karang yang bertahan. Pada 2021, bintang laut berduri menyerang dan sebagian area rusak akibat pembangunan dermaga.
Titik balik datang pada 2022, saat media diganti rangka baja berbentuk jaring atau spider reef frame.
“Sebanyak 85 unit spider reef dipasang di area seluas 115 m², dengan hasil pemantauan menunjukkan pertumbuhan rata-rata karang 1,72 cm dalam tiga bulan. Kehadiran ikan karang meningkat signifikan, menjadi indikator awal bahwa habitat mulai pulih,”jelas Prof. Femy.
Pada 2024, sebanyak 150 unit tambahan dengan 1.050 fragmen karang Acropora ditanam. Tingkat hidupnya tercatat 100 persen, dan populasi ikan naik dari 704 menjadi 740 individu dari 71 spesies.
Alinton Pisuna, local hero dari pesisir
Di balik keberhasilan ini ada Alinton Pisuna, Ketua Kelompok Barrier Reef Botutonuo. Setiap akhir pekan, ia dan 15 anggotanya turun ke laut hanya dengan peralatan snorkeling untuk merawat karang.
“Kami belum punya alat scuba, jadi masih snorkeling. Kalau ada karang yang mati, kami ganti lagi. Setiap Sabtu dan Minggu kami turun untuk membersihkan lumut dan memastikan karang sehat,”ujarnya.
Atas dedikasinya, KLHK memberinya gelar Local Hero Konservasi Laut pada 2024. Ia menjadi penerima pertama dari Gorontalo.
Anak sekolah ikut menanam karang
Kelompok ini juga mengajak siswa Brillikids Leadership Elementary School menanam karang. Anak-anak belajar teori dari dosen Kelautan UNG sebelum menyelam dangkal.
DKP Provinsi Gorontalo menetapkan Teluk Gorontalo, termasuk Botutonuo, sebagai zona konservasi prioritas. Kelompok warga juga difasilitasi mendapat bantuan alat selam dan pelatihan lewat program Lautra dari KKP.




