Bagaimana sebuah daerah mengubah sektor pariwisata menjadi mesin penurun kemiskinan yang terukur? Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim menemukan jawabannya saat menyaksikan pagelaran Gandrung Sewu di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, Sabtu (12/10/2019). Kabupaten di ujung timur Jawa itu berhasil menekan angka kemiskinan dari 20 persen menjadi 7,8 persen berkat kemajuan pariwisatanya, sebuah capaian yang kini ingin direplikasi di Gorontalo.

“Sektor pariwisata diharapkan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi. Banyak daerah yang telah berhasil membuktikan hal itu,” kata Idris. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas OPD dan partisipasi masyarakat sebagai kunci keberhasilan, persis seperti model yang diterapkan Banyuwangi. Pengembangan pariwisata di Gorontalo harus dikelola secara terintegrasi, memadukan kebudayaan, lingkungan, dan seni dalam satu paket destinasi yang menarik. Lingkungan yang bersih, atraksi yang dikemas baik, dan pemberdayaan masyarakat lokal menjadi prasyarat mutlak.

Idris menegaskan bahwa destinasi wisata yang indah harus didukung ekosistem yang lengkap agar wisatawan betah dan belanja mereka menggerakkan ekonomi warga sekitar. “Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk mengembangkan pariwisata Gorontalo yang lebih mendunia,” tandasnya. Ketika pariwisata diposisikan sebagai program unggulan dalam RPJMD 2017-2022, targetnya bukan sekadar jumlah kunjungan, melainkan dampak ekonomi yang terasa hingga ke rumah tangga miskin. Belajar dari Banyuwangi berarti mengadopsi filosofi bahwa pariwisata yang sukses adalah yang mampu mengubah struktur ekonomi daerah secara permanen, bukan hanya menciptakan euforia sesaat.

pariwisata GorontaloIdris RahimBanyuwangiRPJMD Gorontalopenurunan kemiskinanGandrung Sewuekonomi pariwisatadestinasi wisata
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read