Nama Prof. Dr. Aloei Saboe dan H.B. Jassin kembali mencuat. Kali ini bukan sekadar wacana, kedua putra Gorontalo itu resmi masuk dalam 40 tokoh yang diusulkan Kementerian Sosial kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengumumkan hal ini di kantor Kemensos, Jakarta, Kamis (24/10). Ia menjelaskan 40 nama tersebut telah melalui proses panjang dan dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan administratif maupun substansial. "Karena memang sebelumnya harus diproses lewat kabupaten atau kota bersama masyarakat setempat, ahli sejarah, dan juga tentu ada bukti-bukti yang menyertai dari proses itu," kata Saifullah yang akrab disapa Gus Ipul. Ia memaparkan alur panjang pengusulan gelar pahlawan. "Kemudian dibawa ke tingkat provinsi, di tingkat provinsi dibawa ke Kementerian Sosial. Setelah lewat Kementerian Sosial diproses lagi baru naik ke Dewan Gelar," ujarnya. Nama-nama yang diusulkan sebagian besar sudah lama diajukan dan diperjuangkan oleh daerah masing-masing. Selain dua tokoh Gorontalo, daftar itu juga mencakup nama besar seperti Presiden ke-2 RI Soeharto, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, dan aktivis buruh Marsinah. Dokter Saboe dan H.B. Jassin adalah dua tokoh istimewa dalam sejarah kebangsaan. Pada 11 Oktober 1939, Dokter Saboe mulai bekerja di Gorontalo dan langsung mengadakan pertemuan tentang penyakit kusta. H.B. Jassin hadir dan menyimak dengan tuntas. Hasil pertemuan itu dilaporkan dan diulas panjang lebar oleh Jassin di majalah edisi Oktober 1939. Karakter perjuangan Dokter Saboe sangat unik: melintasi Sulawesi dan Jawa, nasionalis yang berjuang dengan otak dan bertaruh dengan pengorbanan fisik dan materi. Ia menjadi guru dan pembela hak-hak kesehatan dan kesejahteraan masyarakat buruh. Pioner di bidang penyakit kusta dan pembaharu di bidang pendidikan kesehatan di Jawa Barat. Salah satu karya terkenalnya adalah buku Pendekatan Ilmiah Tentang Eksistensi Tuhan dan Makhluk Ciptaan-Nya, diterbitkan di Bandung, Pustaka Salman ITB, tahun 1983, 76 halaman, dan direview oleh koran Kompas pada 15 Mei 1983. Sementara H.B. Jassin adalah sastrawan yang pengaruhnya meluas ke seluruh Indonesia. Hampir semua orang yang pernah sekolah sejak 1950an mengenal baik pengaruh Jassin dalam riwayat pendidikannya. Tak mungkin mengenali Bahasa Indonesia, Sastra Melayu, penulis-penulis dari daerah, hingga puisi dan cerpen tanpa membaca ulasan dan buku-buku H.B. Jassin. Keduanya juga memiliki kesamaan: menyukai korespondensi dan dokumentasi. Surat-surat Dokter Saboe menembus meja Presiden, Menteri, dan markas ABRI/TNI. Kini masyarakat Gorontalo menanti keputusan Presiden Prabowo Subianto. Setelah bertahun-tahun diperjuangkan, akankah dua putra terbaik daerah ini akhirnya menyandang gelar Pahlawan Nasional?

Pahlawan NasionalDokter Aloei SaboeHB JassinKementerian SosialSaifullah YusufDewan GelarGorontaloPrabowo Subianto
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read