Idah Syahidah, Wakil Gubernur Gorontalo, menekankan pentingnya hidup sederhana bagi keluarga pejabat sebagai cara mencegah korupsi dari rumah. Pesan ini ia sampaikan saat membuka Bimbingan Teknis Perempuan Indonesia Berintegritas yang digelar KPK RI di Ruang Dulohupa Gubernuran pada Kamis, 21 Mei 2026.

Hadir Direktur Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK Kunto Ariawan, ketua organisasi wanita se-Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas PPPA dr. Yana Yanti Suleman, dan para istri pejabat Pemprov.

Perempuan sebagai corong antikorupsi

Menurut Idah, istri pejabat harus menjadi pengingat dan pengontrol dalam keluarga, termasuk soal gaya hidup yang berlebihan.

“Perempuan harus menjadi corong keluarga dalam mencegah korupsi. Kita harus berani mengatakan bahwa perempuan anti korupsi dan ingin melindungi keluarga dari tindakan korupsi. Semua itu dimulai dari diri sendiri,” ujar Idah.

Ia juga meminta perempuan menolak stigma bahwa istri adalah penyebab suami korupsi. Menurutnya, kasus seperti itu hanya dilakukan segelintir oknum dan tak bisa digeneralisasi.

Idah Syahidah berpikir dua kali sebelum posting

Idah mengingatkan keluarga pejabat selalu jadi sorotan, termasuk di media sosial.

“Saya sendiri sangat berhati-hati ketika menggunakan media sosial. Bahkan saat menghadiri jamuan makan bersama keluarga pun saya berpikir dua kali untuk mempostingnya, karena kita harus memiliki empati terhadap kondisi masyarakat dan menghindari kesan pamer kemewahan,” tambahnya.

Ia juga menekankan etika berbusana dan memakai perhiasan yang tidak berlebihan dalam organisasi wanita, untuk menjaga kesederhanaan dan menghindari kecemburuan sosial.

Komitmen Pemprov

Idah menyebut Pemprov berkomitmen mencegah korupsi lewat tata kelola pemerintahan yang baik, pelayanan publik yang berkualitas, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan peran perempuan.

Relevan untuk semua

Fenomena pamer harta di media sosial beberapa kali memicu kemarahan publik dan membuka penyelidikan terhadap pejabat. Pesan Idah menjadi pengingat bahwa integritas juga terlihat dari hal-hal kecil, seperti apa yang diunggah keluarga ke media sosial.

Buat anak muda yang aktif di media sosial, pesan empati ini juga berlaku: berbagi momen bahagia boleh, tetapi tetap peka terhadap kondisi orang lain.

2 min read