Di tengah prosesi pemakaman kenegaraan BJ Habibie di TMP Kalibata, Kamis (12/9/2019), Gubernur Rusli Habibie mengenakan upia karanji dan koko putih sebagai penghormatan terakhir bagi pamannya. Sebagai kerabat yang pernah tinggal belasan tahun di rumah almarhum di Bandung dan bekerja bersama di IPTN, Rusli kehilangan sosok yang lebih dari sekadar tokoh bangsa. "Almarhum sudah saya anggap sebagai ayah saya sendiri. Pernah bekerja bersama di IPTN dan menjadi inspirasi saya saat menjabat Bupati dan sekarang sebagai Gubernur," kenang Rusli.
Pesan almarhum yang paling membekas bagi Rusli adalah tentang integritas dan karya nyata. "Beliau selalu berpesan supaya bekerja tulus dan ikhlas. Minta saya untuk jangan meninggalkan rakyat serta berbuat karya-karya yang bisa selalu dirasakan orang lain dan tercatat dalam sejarah," ucapnya. Disiplin, keramahan, dan ketidaksombongan BJ Habibie meski memiliki segalanya menjadi pelajaran hidup yang terus dibawa Rusli dalam memimpin Gorontalo.
Warisan BJ Habibie di Gorontalo abadi melalui nama Jalan Alwi Habibie, patung perunggu setinggi 7 meter di Bandara Djalaluddin, dan RSUD Ainun Habibie di Limboto. Setiap kali Rusli melewati tempat-tempat tersebut, ingatan tentang sang paman yang mengajarkan arti pengabdian akan selalu hidup. Pemakaman di Kalibata mungkin mengakhiri perjalanan fisik Eyang Habibie, tetapi nilai-nilai yang ditanamkan kepada Rusli dan keluarga besar Habibie akan terus mengalir dalam setiap kebijakan yang membumi.
