Makara Karawo membuktikan bahwa sulaman tradisional Gorontalo bisa jadi bisnis yang menjanjikan. Di tangan pengusaha muda Mohamad Jafar H. Latif, Karawo diolah menjadi seragam sekolah dan busana pesta yang banyak dicari pembeli.
Usaha ini dirintis pada 2018, saat Jafar baru berusia 23 tahun. Kini omzetnya rata-rata mencapai Rp150 juta per tahun.
Kenapa pilih seragam Karawo?
Jafar fokus pada seragam siswa berbasis Karawo dan pesanan khusus untuk acara resmi.
“Saya memilih usaha ini karena persaingannya masih minim. Tidak seperti seragam sekolah biasa yang banyak diproduksi, karawo hanya dibuat di daerah sini,” ujar Jafar pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Motifnya disesuaikan dengan kebutuhan pasar. “Biasanya motif disesuaikan dengan permintaan sekolah. Tapi motif standar lebih laris karena cocok dengan harga di pasaran,” jelasnya.
Bertahan saat pandemi
Pandemi Covid-19 sempat memukul permintaan busana pesta. Jafar lalu memproduksi masker Karawo yang dijual secara daring.
“Seragam sekolah masih tetap dipesan saat itu. Tapi untuk menyesuaikan kondisi, kami produksi masker dan kerudung karawo syar’i,” tuturnya.
Adaptasi ini didukung bantuan dari Pertamina untuk menambah bahan dan mengembangkan produk baru.
Pekerjakan 35 orang
Makara Karawo juga menjadi tempat pemberdayaan warga. Jafar bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja Kemnaker dan lembaga kursus Kemendikbud untuk pelatihan menjahit dan menyulam. Beberapa peserta magang dari SMK bahkan diangkat jadi karyawan tetap.
Kini ada 35 pekerja: 25 perajin dan 10 di bagian produksi. Usahanya beroperasi dari rumah Jafar di kawasan Dembe dan punya lapak di Pasar Sentral Kota Gorontalo.
Tahun ini, Makara Karawo mendapat kontrak seragam dari 12 sekolah di Gorontalo, dengan pesanan puluhan hingga ratusan potong per sekolah.
Tren baju jadi
“Sekarang tren-nya orang lebih suka beli baju karawo yang sudah jadi ketimbang lembaran kain. Karena itu kami juga kembangkan produk yang siap pakai,” katanya.
Sebagai UMKM binaan Pemkot Gorontalo, Jafar juga mendapat pelatihan pengembangan usaha dan pemasaran. Kisahnya menunjukkan bahwa tradisi dan bisnis bisa berjalan bersama.

