Malam Qunut di Batudaa, Kabupaten Gorontalo, kembali dirayakan ribuan warga pada Kamis malam, 5 Maret 2026. Tradisi malam ke-15 Ramadan ini kini dikemas sebagai festival, tetapi menu khasnya tetap sama: kacang dan pisang.
Sejak sore, warga dari berbagai wilayah memadati lapangan Batudaa. Suasana makin ramai setelah salat tarawih.
Asal-usul Malam Qunut
Bupati Gorontalo Sofyan Puhi, yang hadir langsung, menjelaskan tradisi ini bermula dari warga pegunungan yang turun ke Batudaa untuk mengisi bak air wudu di masjid.
Setelah tarawih, mereka berkumpul di lapangan dan menikmati pisang serta kacang bersama. Ada pula cerita tentang tradisi mandi malam bersama di sumber air setelah tarawih, yang dipercaya sebagai penyucian diri.
Seiring waktu, yang tersisa adalah kebiasaan menyantap kacang dan pisang bersama-sama.
“Kegiatan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan menjadi tradisi yang terus dilaksanakan oleh masyarakat hingga sekarang,” ujar Sofyan.
Harga kacang dan pisang
Simon Erlam (56) sudah membuka lapak dua hari sebelum malam puncak. Ia menjual kacang tanah sekitar Rp25 ribu dan pisang sekitar Rp20 ribu per ikat.
“Malam qunut orang biasanya mencari pisang dan kacang,” ujarnya.
Menurut Simon, penjualan tahun ini lebih ramai.
“Kalau tahun lalu musim hujan dan tempatnya becek, jadi orang agak susah datang. Tahun ini lebih ramai,” tambahnya.
Beli di pasar juga ada, tapi…
Faipul (35), salah satu pengunjung, mengaku datang karena tradisi. Menurutnya, kacang dan pisang sebenarnya bisa dibeli di pasar, tetapi suasana Malam Qunut membuat warga tetap memilih membelinya di lapangan.
Sofyan menyebut Festival Qunut kini juga berkembang di Limboto dan Tilango, meski Batudaa tetap menjadi pusatnya. Ia berharap tradisi ini diwariskan ke generasi muda sebagai identitas budaya Gorontalo.
Tradisi ini sekaligus menggerakkan ekonomi warga setempat, dari pedagang kacang hingga penjual jajanan di sepanjang jalan. Pedagang lain, Izra Demanto (28), juga merasakan lokasi yang lebih nyaman membuat pengunjung leluasa datang dan berbelanja.
Bagi generasi muda, Malam Qunut bisa jadi cara seru mengenal akar budaya sendiri. Tak perlu ritual rumit, cukup datang, duduk bersama, dan menikmati kacang serta pisang seperti yang dilakukan warga sejak puluhan tahun lalu.

