Masjid Hunto di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, akan dikembangkan menjadi kawasan religi terpadu yang mengintegrasikan fungsi keagamaan, edukasi, dan wisata sejarah. Rencana ini dibahas dalam pertemuan Wakil Wali Kota Indra Gobel dengan pengurus masjid dan tim pemerhati pada Jumat (16/5). Ketua Takmirul Masjid Rauf Nagaring menjelaskan bahwa kondisi kawasan saat ini tidak lagi memadai untuk menampung aktivitas yang terus meningkat. “Melalui master plan ini, kami ingin menghidupkan kembali identitas keislaman dan sejarah Gorontalo dengan menjadikan kawasan masjid sebagai pusat edukasi dan kebudayaan, yang juga dapat mendorong percepatan ekonomi baru,” ujarnya.
Master plan tersebut dirancang agar kawasan religi terintegrasi dengan pusat perdagangan dan kota tua Gorontalo, selaras dengan visi kota religius dan kota jasa. Rauf menekankan bahwa pengembangan ini bukan sekadar renovasi fisik, tapi upaya mengembalikan peran Masjid Hunto sebagai jantung peradaban Islam di Gorontalo yang pernah menjadi pusat dakwah dan pendidikan di masa lalu. Integrasi dengan kawasan kota tua diharapkan menciptakan alur wisata budaya yang menarik bagi pengunjung lokal maupun mancanegara.
Wakil Wali Kota Indra Gobel menyatakan dukungan penuh terhadap gagasan ini karena sejalan dengan rencana tata ruang kota yang sudah mencantumkan kawasan tersebut sebagai bagian dari pengembangan wisata, jasa, dan pelestarian budaya. “Kami akan mendiskusikan secara internal untuk melihat bagaimana implementasinya dapat disinergikan dengan program-program kota dan nasional,” ungkapnya. Langkah teknis lanjutan masih akan dibahas agar pengembangan berjalan terukur dan berkelanjutan. Jika terealisasi, Masjid Hunto bukan hanya tempat ibadah, tapi juga destinasi yang menghubungkan masa lalu dan masa depan Gorontalo dalam satu ruang yang hidup dan bermakna
