Mayjen TNI Mirza Agus, Panglima Kodam (Pangdam) XIII/Merdeka, melakukan kunjungan kerja ke Gorontalo pada Selasa, 20 Januari 2026. Kedatangannya disambut adat Mopotilolo di Korem 133/Nani Wartabone.
Ia datang bersama istrinya, Lely Mirza, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Daerah XIII/Merdeka. Rombongan disambut langsung Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail.
Profil Mayjen TNI Mirza Agus
Sebelum menjabat Pangdam XIII/Merdeka, Mirza Agus dipercaya sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Kepemimpinan di Lemhannas RI.
Ia menggantikan Mayjen TNI Suhardi, yang kini menjabat Asisten Teritorial Panglima TNI.
Pertemuan Mirza dan Gusnar juga disebut sebagai pertemuan hangat dua dosen Lemhannas RI. Latar belakang yang sama ini bisa menjadi modal komunikasi yang baik antara TNI dan pemerintah daerah.
Tahapan Mopotilolo
Mopotilolo adalah upacara adat untuk menyambut pejabat tinggi negara yang pertama kali menginjakkan kaki di Gorontalo. Pelaksananya adalah pemangku adat U Duluwo Limo Lo Pohalaa, dewan adat dari lima negeri adat Gorontalo.
Penyambutan diiringi genderang adat dan tari Longgo, tarian perang Gorontalo. Tahap pertamanya mopodungga lo adati, kata-kata bijak dalam bahasa Gorontalo, lalu mopodungga lo uyilumo atau mempersilakan minum.
Setelah doa bersama, prosesi ditutup dengan mongabi, pernyataan resmi tokoh adat bahwa tamu telah mendapat restu untuk berkunjung.
Peran Kodam XIII/Merdeka
Kodam XIII/Merdeka membawahi wilayah Sulawesi bagian utara, termasuk Gorontalo lewat Korem 133/Nani Wartabone. Nama korem ini diambil dari pahlawan nasional asal Gorontalo.
Kunjungan kerja seorang Pangdam baru ke setiap provinsi di wilayahnya biasanya menjadi ajang perkenalan dengan kepala daerah dan jajaran TNI setempat. Hubungan yang baik antara Pangdam dan kepala daerah penting untuk menjaga keamanan sekaligus mendukung program pembangunan, seperti penanganan bencana dan ketahanan pangan.
Kehadiran Ketua Persit dalam kunjungan ini juga menunjukkan peran keluarga besar TNI dalam kegiatan sosial di daerah. Penyambutan adat di Korem juga menunjukkan bahwa tradisi Gorontalo tidak hanya dijalankan di bandara, tetapi juga di institusi militer, sebagai tanda hormat kepada pemimpin baru di wilayah ini.




