Natalius Pigai, Menteri Hak Asasi Manusia RI, berkunjung ke Gorontalo pada Selasa, 31 Maret 2026. Ia tiba di Bandara Djalaluddin Tantu dengan pesawat Garuda sekitar pukul 09.00 WITA dan disambut Sekretaris Daerah Sofian Ibrahim.

Agenda utamanya adalah memberikan materi dalam Penguatan Kapasitas HAM bagi 5.000 warga Gorontalo di Universitas Negeri Gorontalo pada Rabu, 1 April 2026.

Mopotilolo di rumah jabatan

Berbeda dengan tamu lain yang disambut di bandara, prosesi Mopotilolo untuk Pigai digelar di Rumah Jabatan Gubernur. Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail dan unsur Forkopimda menyambutnya di gerbang.

Pigai lalu diarahkan ke ruang tamu diiringi genderang adat dan tari Longgo, tarian perang Gorontalo.

Prosesinya dimulai dengan mopodungga lo adati, yakni kata-kata bijak dalam bahasa Gorontalo. Setelah itu mopodungga lo uyilumo, mempersilakan tamu minum dengan sajian kue tradisional.

Doa dibacakan oleh Kadi Kota Gorontalo, K.H. Abdul Rasyid Kamaru. Prosesi ditutup dengan mongabi, pernyataan resmi tokoh adat bahwa tamu telah mendapat restu berkunjung.

Pejabat yang mendampingi

Usai prosesi adat, Pigai diajak makan siang bersama Gubernur Gusnar. Hadir Wakil Ketua DPRD Laode Haimuddin, Wakapolda Brigjen Pol Simson Zet Ringu, Danrem 133/NW Brigjen TNI Hardo Toga Parlindungan Sihotang, Kajati Riyono, Kakanwil Kementerian Hukum Raymond J.H. Takasenseran, dan Kanwil Kemenham Sulteng Mangatas Nadeak.

Kenapa penguatan HAM penting

Pelatihan HAM bagi 5.000 warga termasuk skala besar untuk sebuah provinsi, apalagi diisi langsung oleh menterinya. Materi soal hak asasi membantu warga memahami hak-hak dasarnya, dari hak atas layanan publik hingga perlindungan dari perlakuan diskriminatif.

Bagi mahasiswa dan anak muda, kegiatan seperti ini bisa menjadi kesempatan belajar langsung dari menteri yang dikenal vokal soal isu HAM sebelum menjabat.

Adat untuk semua tamu

Pigai lahir di Papua. Penyambutannya dengan adat Gorontalo menunjukkan bahwa Mopotilolo diberikan kepada setiap pejabat tinggi negara yang pertama kali datang, tanpa memandang asal daerah. Tradisi ini menjadi cara Gorontalo menyatakan bahwa semua tamu disambut dengan hormat yang sama.

2 min read