Ikon Kabupaten Gorontalo yang sempat redup pamornya kini kembali bersinar dengan cara yang berbeda. Menara Pakaya, yang sering dijuluki "Eiffel-nya Gorontalo", telah dilengkapi sistem pencahayaan LED canggih dari Panasonic yang dikembangkan di Jepang. Inovasi hasil kolaborasi Rachmat Gobel, Presiden PT Panasonic Gobel Indonesia, dengan Bupati Nelson Pomalingo ini diresmikan pada malam pergantian tahun 2019 bersamaan dengan Taman Budaya Limboto. Yang unik, lampu warna-warni yang berganti setiap detik itu tidak menggunakan listrik PLN, melainkan sumber daya mandiri.
Menara setinggi 65 meter dengan lebar 21 meter ini kini menjadi magnet wisata baru. Namun ada catatan penting bagi pengunjung: lighting hanya dinyalakan pada malam Kamis dan malam Minggu. Pada waktu-waktu tersebut, area Pakaya Tower, halaman Masjid Agung Baiturrahman, dan Taman Budaya Limboto senantiasa padat warga yang berfoto ria. Saat ini, bagian atap menara sedang dalam perbaikan sehingga beberapa akses ditutup, namun area perbaikan terbatas di tengah menara dan tidak menghalangi pemandangan cahaya. Ke depannya, perbaikan akan berlanjut agar menara bisa dinikmati baik siang maupun malam.
Transformasi Pakaya Tower menunjukkan bagaimana kolaborasi antara tokoh nasional asal daerah dan pemerintah lokal dapat menghidupkan kembali aset wisata yang terlantar. Penggunaan teknologi LED tanpa ketergantungan pada PLN juga menjadi pernyataan bahwa keindahan visual dan efisiensi energi bisa berjalan beriringan. Bagi wisatawan dan warga lokal, Pakaya Tower bukan lagi sekadar bangunan beton yang mirip menara Paris, tetapi simbol kebangkitan pariwisata Gorontalo yang dikelola dengan sentuhan teknologi dan kreativitas. Ketika sebuah ikon daerah dirawat dengan inovasi, dampaknya melampaui estetika—ia mengembalikan rasa bangga dan menciptakan destinasi yang layak dikunjungi berulang kali.
