Pawai Obor dan Festival Kolak Ubi kembali menyemarakkan Ramadan di Kelurahan Molosipat W, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, pada Ahad malam, 8 Maret 2026. Acara digelar setelah salat tarawih dan dipadati warga.
Ada satu tradisi unik di festival ini: jumlah kolak ubi yang dibagikan selalu sama dengan angka tahun. Tahun ini, panitia membagikan 2026 cup kolak ubi, naik dari 2025 cup pada tahun sebelumnya.
Kolak ubi dari swadaya warga
Kolak ubi tidak hanya disiapkan panitia. Warga Molosipat W secara sukarela menyediakannya di pos-pos sepanjang jalur pawai.
“Yang menyediakan kolak ubi ini masyarakat Kelurahan Molosipat W. Jadi semua orang bisa menyediakan dan siapa saja yang lewat juga boleh mengambil kolak ubi yang sudah disediakan di pos-pos yang ada,” ujar panitia.
Ketua PPIB Kota Gorontalo, Ramli Jafar, menegaskan kegiatan ini dibiayai sepenuhnya oleh warga.
“Alhamdulillah malam hari ini kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Remaja Masjid Kecamatan Kota Barat berupa Festival Pawai Obor dan Festival Kolak Ubi dapat terselenggara dengan baik. Tradisi ini bukan baru pertama kali dilakukan, tetapi sudah rutin dilaksanakan setiap tahun dan dananya murni berasal dari swadaya masyarakat,” ujar Ramli.
Makna Pawai Obor di pertengahan Ramadan
Ketua Panitia, Muhammad Guntur Diwantung, menjelaskan pawai sengaja digelar di pertengahan Ramadan karena berkaitan dengan momentum Nuzulul Qur’an.
Obor melambangkan kebiasaan umat Islam dulu yang berjalan ke masjid di malam gelap dengan obor sebagai penerangan.
Sembilan kelompok ikut serta, terdiri dari majelis taklim, remaja masjid se-Kota Gorontalo, anak-anak TPQ se-Kecamatan Kota Barat, serta siswa SD dan SMP.
Dilepas Wakil Wali Kota
Pawai dilepas Wakil Wali Kota Gorontalo Indra Gobel. Ia mengapresiasi remaja masjid yang konsisten menjaga tradisi.
“Pemerintah Kota Gorontalo sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh remaja masjid dan masyarakat. Tradisi seperti pawai obor ini perlu terus dijaga karena menjadi bagian dari syiar Islam sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat,” ujarnya.
Lima tahun digerakkan anak muda
Festival ini sudah digelar konsisten selama lima tahun oleh Remaja Muda Molosipat W. Pesertanya banyak dari kalangan remaja dan anak-anak.
Ramli berharap kegiatan ini menginspirasi remaja masjid di kelurahan lain untuk menggelar acara serupa sesuai tradisi daerah masing-masing. Dari satu kelurahan, semangat gotong royong ini bisa menular ke seluruh kota.

