Pesantren 1000 Cahaya kembali digelar mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia Baznas (BCB) Universitas Negeri Gorontalo. Pada 3 Maret 2026, mereka berbuka puasa bersama anak-anak Panti Asuhan Safaz’ Ain di Kelurahan Dembe Jaya, Kota Gorontalo.
Tema yang diusung adalah “Satu Buka, Sejuta Makna: Berbagi Cinta di Bulan Mulia”. Acara ini mempertemukan mahasiswa dan anak-anak panti dalam suasana religius dan akrab, sekaligus membawa keceriaan untuk anak-anak panti di bulan puasa tahun ini.
Program nasional di 233 kampus
Pesantren 1000 Cahaya Ramadan adalah inisiatif nasional mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia Baznas Dalam Negeri. Program ini berjalan di 233 kampus di seluruh Indonesia.
Tujuannya memberi pendampingan keagamaan, pendidikan dasar, dan pemberdayaan sosial bagi anak jalanan, anak yatim, dan penyandang disabilitas selama Ramadan.
Lewat program ini, mahasiswa tidak hanya berbagi secara materi, tetapi juga belajar menumbuhkan kepedulian dan empati.
Isi kegiatan Pesantren 1000 Cahaya di UNG
Di UNG, kegiatan difokuskan pada dua hal: literasi keagamaan serta sosial kemasyarakatan. Literasi keagamaan diisi pendidikan agama dan tausiyah, sedangkan kegiatan sosial berupa Pesantren Ramadan dan penyerahan sembako untuk anak-anak panti.
Acara dibuka dengan tilawah Al-Qur’an oleh salah satu mahasiswa BCB UNG, disusul laporan panitia dan sambutan pengurus panti. Mentor BCB UNG Prof. Novianti Djafri membuka kegiatan secara resmi.
Ustaz Faturahman Dunggio menyampaikan tausiyah tentang keistimewaan Ramadan sebagai momen memperbanyak kebaikan dan memperkuat pendidikan karakter. Kegiatan ditutup dengan penyerahan sembako dan salat Magrib berjamaah.
Total ada 67 peserta, termasuk 35 anak panti dan 11 pengurus. Kehadiran mahasiswa dan undangan membuat suasana terasa hangat dan penuh kekeluargaan.
Manfaat untuk anak panti dan mahasiswa
Bagi anak-anak panti, program ini memberi tambahan ilmu agama, peningkatan literasi, dan kebahagiaan Ramadan meski dalam keterbatasan.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi tempat mengasah kemampuan sosial dan kepemimpinan, sekaligus mempraktikkan ilmu pendampingan masyarakat.
Dari sisi pengelolaan zakat, program ini menjadi contoh nyata pemanfaatan dana ZIS (zakat, infak, sedekah) yang langsung berdampak pada pembentukan karakter anak.
Ketua panitia, Fatur, berharap Pesantren 1000 Cahaya terus berlanjut dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk berbagi kebaikan di tengah masyarakat.

