Terletak di jantung kawasan Wallacea, Gorontalo menyimpan keunikan geologi dan biodiversitas yang jarang ditemukan di tempat lain. Flora dan fauna endemik tingkat tinggi, formasi batuan purba, serta budaya lokal yang terjaga menjadikan provinsi ini kandidat kuat geopark kelas dunia. Togu Pardede dari Kementerian ESDM menilai Gorontalo “sangat layak dan potensial” untuk dikembangkan sebagai kawasan geopark, asalkan mengikuti prosedur penetapan yang ketat.

Kepala Bapppeda Gorontalo Budiyanto Sidiki mengakui perlunya pembelajaran dari wilayah yang lebih dulu sukses. Kunjungan ke Geopark Ciletuh-Palabuhanratu pada 20 Juni 2019 melibatkan lintas dinas untuk memahami model pengelolaan yang efektif. “Kami berharap Gorontalo bisa belajar dari daerah lain dan segera memiliki geopark setelah ada kajiannya,” ujarnya. Konsultasi teknis juga dilakukan di Bappenas Jakarta terkait penelitian bersama Research Institute of Humanity and Nature (RIHN) Jepang, menunjukkan orientasi internasional sejak tahap awal.

Pengembangan geopark di Gorontalo bukan sekadar proyek pariwisata, melainkan strategi konservasi berbasis sains. Empat tahapan—penetapan warisan geologi, perencanaan, penetapan status, dan pengelolaan—menjadi peta jalan yang harus dilalui. Dengan dukungan pakar dari Bappenas, ITB, PSG, dan peneliti Jepang, Gorontalo berupaya membuktikan bahwa kekayaan alam Wallacea dapat dikelola secara bertanggung jawab, memberikan nilai edukasi global sekaligus menggerakkan ekonomi lokal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Geopark GorontaloWallaceaBiodiversitasRIHN JepangBapppeda GorontaloKonservasi AlamGeologi IndonesiaPariwisata Berkelanjutan
FacebookThreadsWhatsAppX
1 min read