Rachmat Gobel mengembuskan napas terakhir di Jakarta pada Jumat, 10 Juli 2026. Kepergian tokoh nasional asal Gorontalo ini menjadi kehilangan besar bagi keluarga, dunia usaha, dunia politik, dan terutama warga Gorontalo, tanah kelahirannya.
Selama puluhan tahun, ia berkiprah di dunia usaha, pemerintahan, politik, dan pembangunan daerah. Ia dikenal lebih suka berbicara lewat karya ketimbang retorika.
Dari Gorontalo ke Jepang
Rachmat Gobel lahir di Gorontalo pada 3 September 1962. Ia tumbuh di keluarga yang menjunjung kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab, serta sejak muda sudah belajar memahami dunia industri dari bawah.
Ia kemudian menempuh pendidikan di Jepang. Di sana, ia tidak hanya belajar teknologi dan manajemen industri, tetapi juga menyerap nilai ketelitian, efisiensi, dan penghargaan pada sumber daya manusia.
Gobel Group dan kursi menteri
Di dunia usaha, nama Rachmat Gobel identik dengan Gobel Group. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan keluarga ini terus berkembang lewat kolaborasi dengan perusahaan global Panasonic.
Pada 2014, Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Perdagangan. Masa jabatannya tidak lama, tapi ia sempat mendorong agar produk buatan Indonesia lebih kompetitif.
Jejak Rachmat Gobel di politik
Setelah dari kabinet, ia melanjutkan pengabdian lewat politik. Ia menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2019–2024, lalu kembali terpilih sebagai Anggota DPR RI dari Gorontalo untuk periode 2024–2029.
Di Partai NasDem, ia dipercaya memimpin DPW Provinsi Gorontalo, dengan fokus pada pembinaan kader dan lahirnya pemimpin-pemimpin muda.
Tak pernah lupa kampung halaman
Meski berkiprah di tingkat nasional, ia tetap dekat dengan Gorontalo. Hampir setiap kesempatan ia pakai untuk pulang dan berdialog dengan petani, nelayan, pelaku UMKM, akademisi, tokoh adat, dan anak muda.
Baginya, Gorontalo bukan sekadar daerah pemilihan, melainkan rumah yang harus terus tumbuh. Ia sering menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berpusat di kota besar, dan bahwa manusia adalah aset terpenting sebuah bangsa.
Bagi banyak warga Gorontalo, ia dikenang sebagai putra daerah yang tetap membumi meski berada di panggung nasional.

